Oleh: Damaskus Beny
Alamat: Dusun Pangkalan Jihing, Desa Pangkalan Teluk, Kec. Nanga Tayap, Kab. Ketapang Kode Pos: 78873
Kepala Sekolah : Damaskus Beni, S. Pd
Guru kelas I : Salfatiah, A. Ma
Guru kelas II : Utin Ernawati
Guru kelas III : Evodeus
Guru kelas IV : Sumariani
Guru kelas V : Damaskus Beni, S. Pd
Guru kelas VI : Mochtar, A. Ma
1. Identitas Sekolah/Madrasah : SD N 20 Nanga Tayap
2. Tahun Pendirian Sekolah : 17 Mei 1982
3. Alamat:
a. Jalan : Cali Pangkalan Jihing
b. Desa/Kelurahan : Pangkalan Teluk
1.Desa 2. Kelurahan
c. Kategori Wilayah : 1. Desa terpencil
2. Daerah perbatasan (dengan negara lain)
3. Daerah transmigrasi
4. Tidak termasuk kategori 1,2, dan 3
d. Kecamatan : Nanga Tayap
e. Kabupaten/Kota : Ketapang
1. Kabupaten 2. Kota
f. Provinsi : Kalimantan Barat
g. Kode Pos : 78873
h. email/No Telp/Hp/Fax : damas.beni@yahoo.co.id/081345687497
i. NPSN/NSS : 30103389/101130610020
4. Status Sekolah/Madrasah : Negeri
5. Gugus Sekolah : Imbas
6. Kategori Sekolah : SD biasa
PENANGGUNG JAWAB KEGIATAN SEKOLAH
- Penataan sekolah,pergedungan, dan lingkungan : Damaskus Beni, S. Pd
- Koperasi siswa :
- UKS :
- Kepramukaan :
- Perpustakaan : Sumariani
- Majalah dinding :
BANYAKNYA GURU MENURUT JENJANG PENDIDIKAN:
Stara 1 (S1)/D IV : 1 Orang
Diploma 2 (D2) : 2 Orang
SMA Sederajat : 3 Orang
PENGURUS KOMITE
- Pembina : Kepsek
- Ketua : Bpk.Saifudin
- Ketua Bidang Penggalian Sumber Daya Sekolah : Bpk Abdul Satar
- Ketua Bidang Pengelolaan Sumber Daya Sekolah : Bpk Sabirin
- Ketua Bidang Pengendalian Kwalitas Pelayanan Sekolah : Bpk Sumitro
- Ketua Bidang Kerjasama Sistem Informasi : Bpk Amir Mahmud
- Ketua Bidang Sarana dan Prasarana Sekolah : Bpk Asdianto
- Ketua Bidang Usaha : Bpk Jasmin
TIM PELAKSANA UKS
- Pembina :
- Ketua :
- Wakil KetuaI :
- Wakil KetuaII :
- Sekretaris :
- Anggota :
PENGURUS PERPUSTAKAAN
- Pembina : Kepsek
- Pengelola : Sumariani
- Anggota : Bpk Evodeus, Bpk Mochtar, Ibu Salfatiah, Ibu Utin Ernawati.
DATA SISWA
KELAS I II III IV V VI
L 3 5
P 3 5
Jumlah Total : 63 Anak
DATA AGAMA
KELAS ISLAM PROTESTAN KATOLIK HINDU BUDHA JUMLAH
L L P L P L P L P
I 1 - - - - - - -
II - - - - - - - -
III - - - - - - - -
IV - - - - - - - -
V 3 3 - - - - - - - -
VI 5 5 - - - - - - - -
Jumlah - - - - - - - - 63
DATA GURU DAN PEGAWAI
No. Nama Jabatan NIP Status Kepegawaian
1. Damaskus Beni, S. Pd Kepsek/Wali Kls V 19851215 201101 1 002 PNS
2. Evodeus Bendahara/Wali Kls IV 131338034 PNS
3. Mochtar Sekretaris/Wali Kls VI - GK
4. Salfatiah TU/Wali Kls I - GK
5. Sumariani P. Perpustakaan/Wali Kls III - GTT
6. Utin Ernawati Wali Kls II - GTT
Mengetahui
Kepala SDN 20 Nanga Tayap
Damaskus Beni, S. Pd
NIP. 19851215 201101 1 002
" Di dalam Sebuah Doa ada Optimisme yang Lahir dari Sebuah Kepasrahan"(Donatus Gaza: 2008)
Kamis, 01 September 2011
Pembina Upacara Bendera (Pidato tentang Kebersihan Lingkungan Sekolah)
Oleh: Damaskus Beny
Terimakasih atas kesempatan dan waktu yang diberikan kepada saya,
Selamat pagi dan salam sejahtera bagi kita semua. Pertama-tama marilah kita panjatkan puji dan syukur kehadiran Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan limpahan rahmatnya yang diberikan kepada kita semua pada hari ini, sehingga kita bisa hadir dan berkumpul bersama-sama dalam keadaan sehat seperti sekarang ini.
Yang saya hormati Bapak Kepala Sekolah dan Bapak Ibu guru staf pengajar lainya beserta bagian tata usaha serta semua siswa siswi yang saya cintai dan saya hormati, selamat pagi semuanya. Seperti yang kita ketahui bersama pada hari senin ini, saya diberikan kesempatan sebagai pembina dalam upacara bendera hari ini yang menjadi salah satu agenda rutinitas sekolah kita setiap hari senin pagi. Pada kesempatan ini saya akan menyampaikan beberapa hal yang tentunya menjadi harapan kita bersama dalam rangka memajukan dan meningkatkan mutu serta kualitas sekolah, peserta didik, dan komponen-komponen lainnya yang ada di sekolah kita ini. Sekolah dapat dikatakan baik dan bagus tentunya tidak terlepas dari komponen-komponen yang ada pada sekolah tersebut, sebagai faktor pendukungnya. Salah satunya adalah seperti kualitas pendidik yang mendukung, sarana dan prasarana yang memadai, kedisiplinan, ketertiban di lingkungan sekolah, keamanan di lingkungan sekolah, kerapian dalam berpakaian, kebersihan dalam berpakaian dan lingkungan sekolah, tata krama dan lain sebagainya. Dari beberapa komponen tersebut yang menjadi pelakunya adalah kita semuanya yang berstatus sebagai pelaku pendidikan.
Nah, pada kesempatan ini dari beberapa kriteria yang saya sebutkan tadi, saya akan menegaskan pada bagian kebersihan lingkungan sekolah kita, yang saya anggap perlu kita perhatikan bersama. Kebersihan lingkungan sekolah itu penting karena jika lingkngan sekolah kita itu bersih maka kita akan merasa nyaman untuk melakukan aktivitas kegiatan belajar mengajar kita dan kita akan jauh dari berbagai penyakit yang bisa ditimbulkan dari sampah-sampah yang berserakan di lingkungan sekolah kita. Untuk mewujukan lingkungan sekolah yang bersih memang tidak mudah, karena haruslah didukung oleh kemauan dan perhatian kita semua terhadap masalah tersebut. Saya mengajak kita semua yang hadir di sini untuk menjaga, dan memperhatikan masalah kebersihan lingkungan sekolah kita ini.
Kita bisa memulainya dengan konsep jagalah kebersihan, kalau sudah memakai barang ataupun sesuatau yang menimbulkan sampah, buanglah sampah tersebut pada tempatnya, bagi siswa-siswi semuanya yang kebetulan bertugas sebagai piket kelas, lakukanlah tugas kalian itu dengan sebaik-baiknya dengan penuh rasa tanggung jawab dan kesadaran akan pentingnya kebersihan. Untuk lingkungan luar ruangan kelas, kantor, tata usaha, dan WC yang masih dalam lingkungan sekolah kita, kita bisa lakukan bersama-sama dengan melakukan piket bersama setiap hari sabtu siang. Piket bersama untuk sekolah kita ini bisa kita lakukan satu kali dalam seminggu. Kebersihan lingkungan sekolah kita hanya bisa terlaksana dengan baik, jika mendapatkan dukungan dari semua pihak dan orang-orang yang ada di sekolah kita ini. Hanya itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan ini, akhir kata marilah kita bersama-sama menjaga kebersihan lingkungan sekolah yang kita cintai ini. Mohon maaf jika ada kesalahan dan kata-kata yang menyinggung perasaan kita, dalam penyampaian saya tadi, selamat pagi dan salam sejahtera bagi kita semua.
Terimakasih atas kesempatan dan waktu yang diberikan kepada saya,
Selamat pagi dan salam sejahtera bagi kita semua. Pertama-tama marilah kita panjatkan puji dan syukur kehadiran Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan limpahan rahmatnya yang diberikan kepada kita semua pada hari ini, sehingga kita bisa hadir dan berkumpul bersama-sama dalam keadaan sehat seperti sekarang ini.
Yang saya hormati Bapak Kepala Sekolah dan Bapak Ibu guru staf pengajar lainya beserta bagian tata usaha serta semua siswa siswi yang saya cintai dan saya hormati, selamat pagi semuanya. Seperti yang kita ketahui bersama pada hari senin ini, saya diberikan kesempatan sebagai pembina dalam upacara bendera hari ini yang menjadi salah satu agenda rutinitas sekolah kita setiap hari senin pagi. Pada kesempatan ini saya akan menyampaikan beberapa hal yang tentunya menjadi harapan kita bersama dalam rangka memajukan dan meningkatkan mutu serta kualitas sekolah, peserta didik, dan komponen-komponen lainnya yang ada di sekolah kita ini. Sekolah dapat dikatakan baik dan bagus tentunya tidak terlepas dari komponen-komponen yang ada pada sekolah tersebut, sebagai faktor pendukungnya. Salah satunya adalah seperti kualitas pendidik yang mendukung, sarana dan prasarana yang memadai, kedisiplinan, ketertiban di lingkungan sekolah, keamanan di lingkungan sekolah, kerapian dalam berpakaian, kebersihan dalam berpakaian dan lingkungan sekolah, tata krama dan lain sebagainya. Dari beberapa komponen tersebut yang menjadi pelakunya adalah kita semuanya yang berstatus sebagai pelaku pendidikan.
Nah, pada kesempatan ini dari beberapa kriteria yang saya sebutkan tadi, saya akan menegaskan pada bagian kebersihan lingkungan sekolah kita, yang saya anggap perlu kita perhatikan bersama. Kebersihan lingkungan sekolah itu penting karena jika lingkngan sekolah kita itu bersih maka kita akan merasa nyaman untuk melakukan aktivitas kegiatan belajar mengajar kita dan kita akan jauh dari berbagai penyakit yang bisa ditimbulkan dari sampah-sampah yang berserakan di lingkungan sekolah kita. Untuk mewujukan lingkungan sekolah yang bersih memang tidak mudah, karena haruslah didukung oleh kemauan dan perhatian kita semua terhadap masalah tersebut. Saya mengajak kita semua yang hadir di sini untuk menjaga, dan memperhatikan masalah kebersihan lingkungan sekolah kita ini.
Kita bisa memulainya dengan konsep jagalah kebersihan, kalau sudah memakai barang ataupun sesuatau yang menimbulkan sampah, buanglah sampah tersebut pada tempatnya, bagi siswa-siswi semuanya yang kebetulan bertugas sebagai piket kelas, lakukanlah tugas kalian itu dengan sebaik-baiknya dengan penuh rasa tanggung jawab dan kesadaran akan pentingnya kebersihan. Untuk lingkungan luar ruangan kelas, kantor, tata usaha, dan WC yang masih dalam lingkungan sekolah kita, kita bisa lakukan bersama-sama dengan melakukan piket bersama setiap hari sabtu siang. Piket bersama untuk sekolah kita ini bisa kita lakukan satu kali dalam seminggu. Kebersihan lingkungan sekolah kita hanya bisa terlaksana dengan baik, jika mendapatkan dukungan dari semua pihak dan orang-orang yang ada di sekolah kita ini. Hanya itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan ini, akhir kata marilah kita bersama-sama menjaga kebersihan lingkungan sekolah yang kita cintai ini. Mohon maaf jika ada kesalahan dan kata-kata yang menyinggung perasaan kita, dalam penyampaian saya tadi, selamat pagi dan salam sejahtera bagi kita semua.
PENTINGNYA PERHATIAN INTENSIF ORANG TUA TERHADAP PERKEMBANGAN DAN PERTUMBUHAN ANAK DI TINGKAT SD
Oleh: Damaskus Beny
Abstrak
Tujuan dari pentingnya perhatian intensif orang tua terhadap perkembangan dan pertumbuhan anak-anak, khususnya di tingkat sekolah dasar yaitu agar anak-anak dalam tahap perkembangan dan pertumbuhannya dapat terlaksana secara optimal ke arah yang bersifat positif sesuai dengan harapan orang tua. Dalam masa perkembangan dan pertumbuhan anak banyak faktor yang bisa membawa seorang anak ke arah yang lebih baik atau justru sebaliknya ke arah yang bersifat negatif. Faktor-faktor tersebut bisa dari luar lingkungan keluarga dan dari dalam lingkungan keluaraga. Dari luar lingkungan keluarga misalnya, lingkungan tempat tinggal atau masyarakat, lingkungan sekolah, dan lingkungan teman sebaya anak. Dari dalam lingkungan keluarga misalnya, kedua orang tua, kakek, nenek, paman, bibi, sepupu, kakak, adik, dan keluarga besar yang lainya. Dari berbagai faktor yang mempengaruhi perkembangan dan pertumbuhan anak tersebut, faktor dari dalam lingkungan keluarga merupakan faktor yang memegang peranan penting bagi anak. Dari lingkugan dalam keluarga tersebut secara spesifik orang tua merupakan wahana atau wadah yang paling berperan dan mempunyai pengaruh yang besar terhadap perkembangan dan pertumbuhan anak-anak.
Perkembangan dan pertumbuhan anak dapat berjalan secara optimal ke arah yang bersifat positif jika orang tua melakukan perhatian yang intensif terhadap anak-anak. Dalam merealisasikan perhatian intensif terhadap perkembangan dan pertumbuhan anak, orang tua dapat melakukan berbagai cara sesuai apa yang menjadi kendala dan permasalahan yang dihadapi oleh anak-anak mereka. Sesuatu yang dapat dilakukan oleh orang tua yaitu ; (1) orang tua harus bisa menjadi tokoh yang diidolakan oleh anak-anak mereka, (2) orang tua harus bisa mengembangkan dan melaksanakan kasih sayang afirmatif kepada anak-anak mereka, (3) orang tua dalam mengajarkan anak-anaknya harus disertai dengan teladan, (4) orang tua harus melibatkan diri dalam proses belajar anak, (5) orang tua harus mengajarkan pentingnya kejujuran kepada anak-anak mereka, (6) orang tua harus mengajarkan ank-anak mereka cara mengendalikan emosi, (7) orang tua harus bertindak dengan cepat untuk mengatasi jika anak-anak mereka sulit bergabung atau berinteraksi dengan teman-teman sebaya, (8) orang tua harus melakukan suatu perbutan yang bisa membuat anak bersikap empati terhadap sesama. Cara-cara seperti ini hanya dapat dilakukan oleh orang tua jika mereka memfokuskan diri secara intensif terhadap masa-masa perkembangan dan pertumbuhan anak-anak mereka khususnya pada tingkat sekolah dasar.
Kata Kunci : perhatian, intensif, orang tua, perkembangan, pertumbuhan
A. Pendahulan
Peranan orang tua ternyata bukanlah suatu pekerjaan yang mudah untuk dilakukan. Hal ini terbukti dari realitas kehidupan di dalam masyarakat. Banyak dianatara orang tua yang tidak bisa melakukan tugas dan kewajibannya secara maksimal, masalah ini bisa kita lihat sendiri banyak orang tua yang tidak berhasil atau gagal dalam mendidik anaknya.
Permasalahan seperti ini memang sudah lazim kita jumpai di lingkungan masyarakat sekitar tempat tinggal kita. Banyak yang menjadi faktor mengapa orang tua tidak berhasil atau gagal dalam mendidik anak-anak mereka dengan baik. Orang tua kadang-kadang terlalu memandang tugas dan kewajibannya terahadap perkembangan anak, merupakan sesuatu hal yang biasa-biasa saja. Bila kita cermati secara teliti, kehidupan anak dalam sebuah keluarga misalnya, tidak terlepas dari berbagai pengaruh yang bisa membawa seorang anak tersebut ke arah yang lebih baik atau sebaliknya ke arah yang bersifat negatif.
Pengaruh-pengaruh yang bisa mempengaruhi perkembangan seorang anak misalnya, pengaruh yang datang dari dalam lingkungan keluarga maupun pengaruh yang datang dar luar lingkuang keluarga. Pengaruh yang datang di dalam lingkuangan keluarga misalnya dari kedua oran tua, saudara, maupun anggota-anggota keluarga lainnya. Pengaruh yang datang dari luar lingkungan keluarga misalnya lingkungan masyarakat sekitar, lingkungan sekolah, pergaulan sesama teman, berbagai media masa baik media cetak maupun media elektronik. Pengaruh yang ada di dalam lingkungan keluarga memegang peranan yang sangat penting dalam proses perkembangan seorang anak. Proses perkembangan seorang anak yang sangat di perhatikan adalah pada masa usia tingkat sekolah dasar (SD). Pada usia tingkat SD menjadi skala poritas perhatian orang tua karena pada usia ini, anak-anak berada dalam tahap perkembangan dan pertumbuhan. Pikiran anak masih bersifat polos dan lugu, sehingga apa yang dia lihat, dengarkan, rasakan dan dia peroleh dari pengajaran yang di berikan kepadanya bisa menjadi suatu pegangan bagi si anak.
B. Orang Tua Sebagai Tokoh Idola bagi Anak
Keberadaan orang tua di dalam sebuah keluarga, merupakan suatu hal yang wajar. Akan tetapi kehadiran orang tua yang benar-benar bisa membuat suasana keluarga terasa lebih bermakna merupakan sebuah pilihan. Masalah ini disebabkan karena kehadiran orang tua di tengah-tengah keluarga sering kali tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Anak-anak di dalam sebuah keluarga biasanya lebih dekat dengan pembantunya, tetangganya, maupun dengan tokoh-tokoh yang ada di dalam dunia film atau komik. Bahkan anak-anak pada usia tingkat SD dengan senangnya mengidolakan pembantunya, tetangganya, maupun tokoh-tokoh yang ada di dalam film dibandingkan kedua orang tuanya.
Pertanyaanya adalah mengapa hal ini bisa terjadi ? Kasus seperti ini memang sering terjadi bahkan sudah menjadi suatu budaya, karena kehadiran orang tua di dalam lingkungan keluarga tidak bisa menjadi tokoh yang yang idola bagi anak-anak mereka. Kehadiran orang tua seharusnya bisa menjadi tokoh idola bagi anak-anak mereka. Dengan demikian anak-anak yang berada di dalam usia perkembangan bisa lebih dekat dan akrab dengan orang tuanya. Peranan orang tua sebagai tokoh yang di idolakan oleh anaknya, akan membantu ke arah mana kehidupan sang anak mau di arahkan.
Untuk menjadi tokoh yang di idolakan oleh orang lain bahkan banyak orang tidak semudah kita mengucapkannnya. Sekalipun yang mengidolakan adalah anggota kelurga itu sendiri, bukan berarti konsep sebgai anggota keluarga merupakan suatu jaminan untuk bisa di idolakan. Ketika posisi orang tua sudah benar-benar bisa menjadi tokoh yang di idolakan oleh anak-anak mereka, pada saat seperi itulah orang tua dengan agak lebih mudah memberikan pengajaran, bimbingan, serta mengarahkan anak-anak mereka ke arah yang sifatnya positif. Perilaku, sikap, perbuatan tindakan dan segala sesuatu yang bisa ditiru dan diikuti oleh anak-anak yang di lakukan oleh orang tua hendaknya sesuatu yang seharusnya patut dicontoh dan ditiru oleh anak-anak. Ketika orang tua memang sudah benar-benar dianggap sebagai tokoh yang sungguh-sungguh diidolakan oleh anak-anak mereka, maka peilaku, sikap, perbuatan, dan tindakan yang dilakukan oleh orang tua akan cenderung ditiru oleh anak-anak.
C. Mengembangkan Kasih Sayang Afirmatif
Menyayangi anak dan memenuhi semua permintaan mereka merupakan dua hal yang berbeda. Kasih sayang yang afirmatif berarti menyediakan situasi yang baik bagi perkembangan emosi anak, dan mendukung melalui cara yang jelas dikenali oleh anak. Kasih sayang seperti ini lebih dari sekedar memberi pujian ketika anak mendapat nilai tinggi dalam ulangan, atau memeluk dan memberi ciuman pada saat tidur. Kasih sayang ini berarti melibatkan diri secara aktif dalam kehidupan emosi anak. Sebagaimana akan kita lihat, ini meliputi bermain bersama anak anda yang masih berada pada usia perkembangan khususnya tingkat SD.
Penelitian juga mengungkapkan bahwa hubungan yang terbuka dan saling menyayangi dengan anak akan memberikan efek jangka panjang berupa meningkatnya citra diri, keterampilan menguasai situasi dan mungkin kesehatan anak. Sebuah studi yang dilakukan oleh psikolog Linda Russek dan Gary Schwartz (dalam Lawrence E, Shapiro; 2001 : 29) pada pertemuan American Psychosomatic Society pada bulan Maret 1996 menunjukan pentingnya membangun hubungan yang positif dengan anak bagi masa depan mereka. Para peneliti ini melaporkan sebuah studi yang dimulai tiga puluh lima tahun sebelumnya ketika 87 mahasiswa Harvard College, semua berusia sekitar 20 tahun, diminta membuat kesan tertulis tentang bagaimana dahulu orang tua menyayangi dan mendukung mereka.
Sesudah mengamati responden yang sama tiga puluh lima tahun kemudian, ternyata waktu mereka masih menjadi mahasiswa menuliskan orang tua yang lebih penyayang, lebih jarang menderita penyakit serius dalam usia pertengahan, termasuk penyakit jantung dan hipertensi, lepas dari adanya faktor-faktor risiko penting seperti riwayat keluarga, usia, dan kebiasaan merokok. Seperti yang diramalkan, para mahasiswa yang dahulu mengeluh diperlakukan tidak adil oleh orang tua, sekarang menjadi orang-orang setengah baya yang sering mengalami sakit fisik yang serius.
Penelitian seperti ini menekankan peran penting kita dalam hal kesehatan mental dan fisik anak kita. Meningkatnya kecendrungan dikalangan ahli terapi anak untuk melatih orang tua melibatkan diri dalam terapi permainan bersama anak-anak mereka, menunjukan diterimanya prinsip ini secara positif.
Bagi anak-anak yang berada pada usia tingkat sekolah dasar (SD) dianjurkan agar orang tua menetapkan waktu khusus untuk berpartisifasi dengan anak-anaknya dalam kegiatan bermain. Selama waktu itu, orang tua harus menciptakan suasana yang tidak menuntut penilaian tetapi menarik, menggairahkan, dan menunjukan penerimaan.
D. Mengajarkan dengan Memberi Teladan
Apabila anak-anak menyaksikan kita dengan tenang mebahas sebuah masalah, menguraikan segala sesuatunya, dan menyelesaikan masalah tersebut, anak-anak dengan sendirinya bisa meniru perilaku tersebut. Sebaliknya jika orang tua menunjukan sikap yang mudah menyingung perasaaan orang lain, tidak mau kalah, maka perilaku seperti inipun akan menjadi suatu yang ditiru oleh mereka.
Dengan berbagai alasan psikologis, sebagian orang tua mungkin tidak mencontohkan keterampilan pemecahan masalah di rumah, walaupun sesungguhnya mereka juga bisa memecahkan segala persoalan. Sungguh sangat mengherankan mengapa orang tua begitu sering memperlakukan orang lain bahkan orang asing lebih baik dan lebih lembut dibandingkan waktu orang tua memperlakukan anak-anak mereka. Namun bila kita berusaha, hal ini tidak perlu terjadi. Sebagaimana yang diterangkan oleh psikolog sosial Dr. Loise Hart dalam The Winning Family (dalam Lawrence E. Shapiro; 2001 : 143), apabila orang tua menjalankan tanggung jawab atas peran mereka sebagai pemimpin dalam keluarga mereka merupakan teladan yang baik sekali bagi anak-anak mereka.
E. Keterlibatan Orang Tua Dalam Proses Belajar Anak
Dari sekian banyak orang tua, hanya sedikit saja yang mau melibatkan diri dalam pendidikan anaknya, tetapi jumlah mereka tampaknya terus bertambah. Gerakan “bersekolah di rumah” misalnya, telah diikuti oleh sejumlah orang tua yang tidak mengirim anak-anaknya kemanapun, tetapi menyediakan seratus persen kebutuhan pendidikan mereka. Gerakan ini kebanyakan diikuti oleh orang tua yang keyakinan keagamaan atau kekuatan politik yang kuat dan merasa bahwa sekolah umum akan melantarkan prinsip-prinsip dasar yang seharusnya dipelajari oleh anak- anaknya.
Jika kita memeperhatikan sekolah-sekolah dan keluarga-keluaga Jepang sebagai model untuk tercapainya prestasi akademik yang lebih tinggi, kita akan melihat orang tua Amerika pada umumnya tidak cukup memetingkan pendidikan anak-anaknya, termasuk tidak cukup menyediakan waktu untuk itu. Menurut Merry White dari Boston University (dalam Lawrence E. Shapiro; 2001 : 241), seorang pakar dalam pendidikan Jepang, cara orang tua melibatkan diri dalam pendidikan anak-anaknya merupakan titik berbedaaan yang nyata dari dua kebudayaan ini. Di Jepang tidak begitu memanfaatkan teknologi dalam ruang kelas mereka dibanding sekolah-sekolah Amerika pada umumnya, dan memusatkan perhatian pada kurikulum dasar dan metode pengajaran tradisional. Akan tetapi perbedaan yang mencolok pada ibu-ibu Jepang yang memandang pendidikan anak-anaknya sebagi tanggung jawab yang paling penting. Sementara orang tua Amerika pada umumnya lebih suka menyerahkan urusan pendidikan anaknya kepada pihak sekolah.
Meskipun kebanyakan keluaraga Amerika tidak dapat sepenuhnya meniru keluarga pada masyarakat Jepang, karena kaum ibu-ibu di Jepang bisa mengabdikan diri sepenuhnya kepada anak-anak dengan mengorbankan karier. Andaikan orang tua khususnya ibu-ibu yang ada di Indonesia ini, bisa menyisihkan satu jam saja dari masa aktif kita dalam sehari bagi anak-anak, ini akan memberikan peningkatan yang cukup signifikan dalam pengalaman pendidikan anak. Berkat perhatian khusus yang yang akan diterima anak, kita dapat berharap bahwa proses mereka bisa maju dengan laju yang lebih cepat.
Orang tua dapat memulai keterlibatan dengan anak dengan membiasakan diri dalam apa saja yang dipelajari oleh anak di dalam ruang kelasnya. Jika guru dari anak-anak tersebut belum memberitahu orang tua keterampilan-keterampilan atau informasi-informasi yang diajarkan setiap minggu, sebaiknya orang tua menanyakan kepada guru dari anak-anak mereka. guru-guru yang mengikuti kurikulum standar biasanya wajib menyusun satuan bahan pelajaran baik mingguan maupun harian. Guru-guru akan merasa senang jika para orang tua murid mereka meminta saliannya. Rencana pembelajaran itu biasanya menyatakan dengan jelas sasaran yang hendak dicapai dari bahan yang akan diajarkan, termasuk kriteria tentang bagaimana pencapaian sasaran itu dapat diuji atau diukur. Jika guru yang bersangkutan tidak bisa menyediakan informasi seperti ini berarti para orang tua harus mencari dari sumber lain.
Orang tua bisa mencari sumber informasi tersebut misalnya lewat toko buku, media cetak, maupun media elektronik. Media elektronik misalnya intrnet yang sekarang ini sudah populer. Pada internet disediakan sejumlah alamat (site) yang dapat membantu orang tua melibatkan diri dalam proses pendidikan anak melalui petualangan yang mengasikkan.
F. Orang Tua Harus Mengajarkan Pentingnya Kejujuran
Fakta dalam kehidupan sehari-hari membuktiakan bahwa anak-anak yang sering berbohong kebanyakaan berasal dari rumah tangga dengan orang tua yang juga sering berbohong. Selain itu, anak-anak yang berasal dari rumah tangga dengan pengawasan yang minim dari orang tua, bisa juga mengakibatkan bersikap tidak jujur.
Walaupun sedikit orang tua yang akan berkata bahwa mereka tidak pernah berbohong, orang tua harus sadar benar akibat kebohongan tersebut baik yang dilakukan langsung maupun tidak langsung. Sesuatu yang perlu diingat bahwa tidak ada alasan yang baik untuk berbohong kepada anak. Ini tidak berarti bahwa orang tua harus menceritakan semuanya kepada mereka. Jika ada sesuatu yang sangat pribadi atau di luar kemampuan pemahaman anak, katakan saja bahwa keadaanya memang demikian. Orang tua harus berusaha agar pentingnya kejujuran terus menjadi topik utama pembicaraan di dalam rumah.
G. Cara Orang Tua Mengajari Anak Mengendalikan Emosi
Tanpa keraguan, masalah emosi yang paling lazim di hadapi oleh anak-anak pada usia tingkat sekolah dasar adalah berhubungan dengan pengendalian amarah. Berdasarkan realitas sehari-hari pada saat ini, anak-anak yang dinyatakan pemarah, agresif, atau pembangkang lumayan besar jumlahnya. Kita telah lama mengetahui bahwa anak-anak banyak yang meniru perilaku negatif yang mereka tonton di televisi, tetapi ada juga sebagian anak-anak secara tidak sadar meniru perilaku yang positif.
Orang tua juga dapat mengajarkan pengendalian diri melalui bagian otak emosional dengan menyediakan berbagi pengalaman yang merangsang reaksi emosi positif. Program olah tubuh yang menantang, melakukan berbagai kegiatan yang beresiko tinggi tetapi dengan cara yang aman terbukti sangat populer untuk membantu anak-anak usia remaja agresif, membangun kepercayaan diri yang tinggi, dan kerjasama kelompok yang kompak.
Selain itu, ada cara lain yang lebih langsung untuk mengajari anak-anak mengendalikan emosinya dengan menggunakan keterampilan kognitif. Sebagai contoh banyak sekolah-sekolah di Amerika yang mengajari peserta didik untuk menyelesaikan konflik termasuk berunding dan menyelesaikan masalah diantra teman. Cara seperti ini bisa diterapkan oleh orang tua di dalam keluarga, sebagai salah satu cara untuk mengurangi pertengkaran antara saudara, maupun antara orang tua dengan anak.
Cara yang dapat dilakuakan adalah :
1. Anak harus duduk berhadapan dan sepakat untuk bekerja sama memecahkan suatu konflik. Mereka juga harus sepakat untuk saling menghormati pandangan saudara yang lain dan berhenti saling mengejek dan merendahkan.
2. Setiap anak harus menceritakan pendapatnya misalnya apa yang dia inginkan dan mengapa dia berbuat demikian. Setelah itu saudara yang lain juga menceritakan permasalahan itu. Perundingan akan berhasil bila semua bersepakat bahwa setiap dari mereka mempunyai hak untuk berpendapat dan menyampaikan permasalahnnya.
3. Aspek penting dalam perundingan adalah menciptakan solusi.
4. Setiap anak mengevaluasi setiap pilihan. Pada saat perundingan mereka seolah-olah berada di pihak yang sama, mencari hasil yang akan memecahkan permasalahan mereka.
5. Tahap yang terakhir anak-anak itu harus membuat persetujuan atau rencana kerja, di mana, dan bagaimana solusi tersebut dilaksanakan.
Pada umumnya anak-anak pasti mengalami kesulitan mengadalkan sendiri perundingan seperti ini, program penyelasaian masalah sering melatih anak-anak sebagai aktor menyelasaikan masalah, terutama perselisihan antara teman. Anak-anak yang berusia sembilan atau sepuluh tahun pun dapat dilatih untuk menjadi penengah dalam penyelesaian masalah. Dengan demikian secara tidak langsung berpengaruh kepada perkembangan mental emosional mereka.
H. Sesuatu yang dapat dilakukan Oleh Orang Tua Jika Anak Sulit Bergabung dengan Kelompok Sebaya
Jika anak-anak mengalami kesulitan dalam menemukan kelompok atau teman, karena alasan situasi dan karakter, orang tua mungkin akan merasakan kepedihan yang sama seperti keadaan anak mereka yang berada dalam posisi seperti itu.
Berikut ini beberapa solusi khusus untuk mendukung anak-anak jika ia mengalami penolakan dan isolasi sosial :
1. Bertindak sebagai teladan bagi anak dengan berpartisipasi dalam kelompok orang tua itu sendiri
Orang tua tidak akan bisa berharap banyak dari pengaruh yang dimiliki kepada anak-anak bila contoh yang orang tua berikan hanya sesekali saja. Jika orang tua belum aktif dalam kelompok-kelompok pergaulan dewasa yang berbeda, orang tua mungkin dapat mempertimbangkan manfaat positif pergaulan ini baik bagi orang tua maupun bagi anak-anak mereka. Sesuatu yang penting adalah bahwa anak-anak bisa merasakan makna kelompok-kelompok tersebut bagi orang tua. Seorang anak akan melihat begitu bersemangatnya sang ayah yang sedang berlatih tenis dengan kerabatnya. Peristiwa seperti ini kan membawa dampak kepada anak-anak. Mereka akan cendrung meniru untuk dapat bersosilisasi dengan teman sebaya mereka.
2. Dorong anak mencoba peran lain dalam kelompok keluarga
Kelompok pertama anak berada adalah keluarganya itu sendiri. Walaupun keluarga sang anak berbeda dari kelompok teman sebaya, kelompok keluarga ini dapat berfungsi sebagai wahana bagi mereka dalam mempelajari keterampilan kelompok tanpa takut mengalami penolakan. Rapat keluarga adalah saat bagi anak untuk mencoba berperan sebagi kelompok tertentu, berikan kesempatan kepada anak untuk mempraktekkan peran yang berbeda dalam kelompok. Sebagai contoh, waktu keluarga merencanakan liburan atau piknik, orang tua harus mengajukan suatu pendapat kepada anak mengenai rencana liburan atau piknik mereka.
Dalam kegiatan lain misalnya pada waktu merencanakan kegiatan minggu sore, anak bisa diberikan kesempatan memegang peran sebagai pemimpin, mengumpulkan pendapat setiap anggota keluarga, mengadakan perhitungan suara, dan mengumumkan keputusan akhir. Rapat di dalam sebuah keluarga harus merupakan salah satu prioritas utama yang harus dilakukan secara teratur. Rapat dalam keluarga idealnya adalah sekali dalam seminggu, agar ketika rapat secara tidak langsung anak-anak dapat belajar keterampilan dalam kelompok. Jika rapat dalam sebuah keluaraga dilakukan hanya pada waktu ada krisis dan waktu emosi sedang naik, anak-anak tidak akan begitu menikmati manfaat dari rasa saling memiliki dan peran serta dalam sebuah kelompok.
3. Mendorong anak bergabung dalam kelompok khusus yang terdiri dari anak-anak yang mirip dengan mereka
Semejak anak-anak berusia tujuh atau delapan tahun yang tentunya masih berada pada tingkat sekolah dasar, dorongan mereka untuk bergabung sebanyak mungkin kelompok sebaya yang bermacam-macam. Orang tua mungkin ingin mereka bergabung dengan kelompok besar seperti Gerakan Pramuka, namun fakta yang sering terjadi anak-anak yang mengalami penolakan sosial disekolah jarang berhasil dalam kelompok seperti ini. Mereka akan tetap mempunyai status sosial yang sama sebagai anggota yang dipinggirkan. Anak-anak yang mengalami kesulitan dengan kelompok anak-anak yang anggotanya sangat beragam lebih mungkin berhasil dalam kelompok yang lebih khusus, misalnya berdasarkan keterampilan, minat, tempat tinggal, dan pelayanan sosial. Kelompok-kelompok beteman khusus ini lebih mungkin menerima anak-anak dengan kepribadian, minat, dan keterampilan sosial yang kira-kira sama dengan mereka.
4. Mencari kelompok pelatihan keterampilan sosial formal bagi anak dengan masalah sosial ekstrem
Anak-anak yang mempunyai kesulitan dalam bergabung dengan sebuah kelompok sering tidak mempunyai keterampilan khusus, khususnya pada usia delapan atau sembilan tahun, mereka mungkin hanya bisa menguasai suatu keterampilan bila melalui pelatihan keterampilan sosial terstruktur bersama teman-teman sebaya mereka. Sekolah-sekolah di Eropa pada umumnya sudah mempunyai program pelatihan yang dirancang untuk membantu anak-anak mengembangkan kepekaan dan kesadaran sosial lebih besar akan pengaruh perilaku mereka bagi orang lain. Kelompok-kelompok dipandu oleh konselor atau guru yang terlatih, dalam suatu program pembentukan keterampilan secara sistematis yang berlangsung paling sedikit 20 kali pertemuan, dan menekankan penerapan keterampilan itu di luar kelompok, tetapi masih di dalam lingkungan sekolah.
Psikolog David Goevremont (dalam Lawrence E. Shapiro; 2001 : 214) menekankan bahwa kelompok pelatihan keterampilan sosial harus menggunakan situasi-situasi nyata yang bermacam-macam dalam program mereka dan menyertakan pekerjaan rumah berupa peninjauan diri dalam selang waktu setiap diadakan pertemuan. Guevremont juga menekankan pentingnya melanjutkan pertemuan-pertemuan meskipun program pelatihan formal telah selesai. Pertemuan-pertemuan ini akan membantu anak membicarakan masalah-masalah baru mereka yang timbul dan kesulitan-kesulitan yang belum teratasi. Kelompok pelatihan keterampilan sosial seperti ini hanya diperlukan jika anak-anak merasa terkucil meskipun orang tua sudah berusaha membantunya mendapatkan teman.
I. Sesuatu yang Dapat Dilakukan Orang Tua Agar Anak Bersikap Empati Terhadap Sesama
Sebagaimana yang telah kita ketahui baik itu empati, dasar semua keterampilan sosial secara alamiah ada pada sebagian besar anak. Secara umum anak laki-laki sama sosialnya dengan anak perempuan, tetapi mereka cendrung lebih suka memberikan bantuan fisik atau bertindak sebagai “pelindung” (misalnya membantu teman belajar mengendarai sepeda), sedangkan anak prempuan lebih suka memberikan dukungan psikologis (misalnya menghibur anak lain yang sedang sedih) baik kelas sosial maupun besarnya keluarga tampaknya tidak berhubungan dengan perilaku empati, walaupun seorang kakak umumnya lebih bersikap siap membantu di banding adik-adiknya. Perilaku saling membantu diantara kakak dan adik biasanya lebih besar bila beda usia diantara mereka lebih jauh.
Dengan kondisi yang sesuai ditambah dorongan alami pada anak-anak untuk membantu dan memahami orang lain, kita bisa berharap bahwa mereka lebih sering dan lebih konsisten menunjukkan perilaku empati terhadap orang lain. Apabila anak-anak bersikap tidak ramah, tidak peduli, bahkan kejam kepada orang lain orang tua harus bisa sering dapat melacak perilaku “tidak alami” ini pada lingkungan keluarga. Jika orang tua ingin membesarkan anak yang peduli dan sayang kepada orang lain, dan perilaku konsisten dengan perasaan-perasaan ini, inilah yang harus dapat orang tua lakukan.
1. Orang tua harus memberikan tuntutan kepada anak mengenai sikap peduli dan tanggung jawab.
Pada keluarga-keluarga tertentu, agama memegang peranan penting dalam perkembangan moral anak. Meskipun sebagian besar agama mengharuskan menghafal seperangkat ajaran moral, tetapi hafalan seperti ini tampaknya tidak begitu berpengaruh terhadap perilaku mereka. Cara orang tua menerapkan ajaran agama dalam menjalani hidup sehari-hari justru efektif dalam mempengruhi anak. Namun, ada juga kelompok keagamaan yang efektif dalam mengajarkan kepedulian kepada orang lain.
Jika orang tua ingin agar anak mereka lebih empati, lebih penyayang, dan lebih bertanggung jawab. Orang tua hendaknya harus bisa membuat peraturan keluarga yang jelas dan konsisten dan tidak mudah memberikan keringanan kepada mereka. Orang tua harus menuntut mereka bertanggung jawab. Anak-anak usia SD sudah bisa diminta untuk menjaga kebersihan diri, atau bahkan membantu pekerjaan-pekerjaan yang ringan misalnya memasang sendok, menyiapkan piring di atas meja makan, bagi anak perempuan misalnya mencuci piring juga bisa dilakukan. Pekerjaan rumah tangga dan tanggung jawab lain harus ditingkatkan sesuai dengan usia dan kemampuan anak serta tidak disertai dengan hadiah atau bahkan dengan uang saku. Anak-anak harus dituntut membantu orang di rumah, semata-mata karena membantu orang lain itu benar. Mendapatkan uang saku dan belajar mengelola uang adalah dua hal yang harus dipisahkan.
Jika orang tua mengiginkan anak-anak mereka berfikiran luas, peduli akan orang lain, dan bertanggung jawab, ada satu hal yang paling sederhana yang harus dilakuakan oleh orang tua yaitu : Perketat tuntutan kepada anak. Hal yang mudah misalnya anak-anak dituntut untuk bisa selalu merapikan tempat tidur mereka, dan mengerjakan pekerjaan rumah (PR) mereka. Untuk menghasilkan anak lebih bertanggung jawab, orang tuapun harus benar-benar bertanggung jawab, dan ini dapat dimulai dengan mengatasi godaan untuk berpendapat bahwa memanjakan anak tidak akan merusak, justru memanjakan akan berpotensi merusak anak.
J. Penutup
Proses perkembangan dan pertumbuhan anak-anak pada usia tingkat sekolah dasar (SD), banyak faktor yang mempengaruhinya. Faktor-faktor yang mempengaruhinya ada yang datang dari dalam keluarga itu sendiri maupun dari luar keluarga, misalnya di lingkungan sekolah, lingkungan teman bermain dan sebaya, serta lingkungan masyarakat tempat tinggal. Dari berbagai faktor-faktor yang mempengaruhi proses perkembangan dan pertumbuhan tersebut, orang tua merupakan wahana yang paling utama yang bertindak sebagai pemerhati perkembangan dan pertumbuhan anak-anak mereka khususnya pada usia tingkat sekolah dasar (SD).
Perkembangan dunia pada saat ini yang semakin pesat, tentu memberi berbagai dampak dalam proses kehidupan manusia. Dampak yang ditimbulkan bukan hanya dampak positif saja, melainkan juga dampak negatif. Dampak yang perlu diperhatikan dan diantisipasi oleh orang tua terhadap proses kehidupan perkembangan dan pertumbuhan anak-anak mereka, pada usia tingkat sekolah dasar adalah dampak negatif . Oleh karena itu, orang tua benar-benar memerlukan perhatian yang intensif dan memprioritaskan diri pada anak-anak mereka, khususnya pada usia perkembangan dan pertumbuhan tingkat sekolah dasar.
Daftar Pustaka
Shapiro, E. Lawrence. 2001. Mengajarkan Emotional Intelligence pada Anak. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.
Abstrak
Tujuan dari pentingnya perhatian intensif orang tua terhadap perkembangan dan pertumbuhan anak-anak, khususnya di tingkat sekolah dasar yaitu agar anak-anak dalam tahap perkembangan dan pertumbuhannya dapat terlaksana secara optimal ke arah yang bersifat positif sesuai dengan harapan orang tua. Dalam masa perkembangan dan pertumbuhan anak banyak faktor yang bisa membawa seorang anak ke arah yang lebih baik atau justru sebaliknya ke arah yang bersifat negatif. Faktor-faktor tersebut bisa dari luar lingkungan keluarga dan dari dalam lingkungan keluaraga. Dari luar lingkungan keluarga misalnya, lingkungan tempat tinggal atau masyarakat, lingkungan sekolah, dan lingkungan teman sebaya anak. Dari dalam lingkungan keluarga misalnya, kedua orang tua, kakek, nenek, paman, bibi, sepupu, kakak, adik, dan keluarga besar yang lainya. Dari berbagai faktor yang mempengaruhi perkembangan dan pertumbuhan anak tersebut, faktor dari dalam lingkungan keluarga merupakan faktor yang memegang peranan penting bagi anak. Dari lingkugan dalam keluarga tersebut secara spesifik orang tua merupakan wahana atau wadah yang paling berperan dan mempunyai pengaruh yang besar terhadap perkembangan dan pertumbuhan anak-anak.
Perkembangan dan pertumbuhan anak dapat berjalan secara optimal ke arah yang bersifat positif jika orang tua melakukan perhatian yang intensif terhadap anak-anak. Dalam merealisasikan perhatian intensif terhadap perkembangan dan pertumbuhan anak, orang tua dapat melakukan berbagai cara sesuai apa yang menjadi kendala dan permasalahan yang dihadapi oleh anak-anak mereka. Sesuatu yang dapat dilakukan oleh orang tua yaitu ; (1) orang tua harus bisa menjadi tokoh yang diidolakan oleh anak-anak mereka, (2) orang tua harus bisa mengembangkan dan melaksanakan kasih sayang afirmatif kepada anak-anak mereka, (3) orang tua dalam mengajarkan anak-anaknya harus disertai dengan teladan, (4) orang tua harus melibatkan diri dalam proses belajar anak, (5) orang tua harus mengajarkan pentingnya kejujuran kepada anak-anak mereka, (6) orang tua harus mengajarkan ank-anak mereka cara mengendalikan emosi, (7) orang tua harus bertindak dengan cepat untuk mengatasi jika anak-anak mereka sulit bergabung atau berinteraksi dengan teman-teman sebaya, (8) orang tua harus melakukan suatu perbutan yang bisa membuat anak bersikap empati terhadap sesama. Cara-cara seperti ini hanya dapat dilakukan oleh orang tua jika mereka memfokuskan diri secara intensif terhadap masa-masa perkembangan dan pertumbuhan anak-anak mereka khususnya pada tingkat sekolah dasar.
Kata Kunci : perhatian, intensif, orang tua, perkembangan, pertumbuhan
A. Pendahulan
Peranan orang tua ternyata bukanlah suatu pekerjaan yang mudah untuk dilakukan. Hal ini terbukti dari realitas kehidupan di dalam masyarakat. Banyak dianatara orang tua yang tidak bisa melakukan tugas dan kewajibannya secara maksimal, masalah ini bisa kita lihat sendiri banyak orang tua yang tidak berhasil atau gagal dalam mendidik anaknya.
Permasalahan seperti ini memang sudah lazim kita jumpai di lingkungan masyarakat sekitar tempat tinggal kita. Banyak yang menjadi faktor mengapa orang tua tidak berhasil atau gagal dalam mendidik anak-anak mereka dengan baik. Orang tua kadang-kadang terlalu memandang tugas dan kewajibannya terahadap perkembangan anak, merupakan sesuatu hal yang biasa-biasa saja. Bila kita cermati secara teliti, kehidupan anak dalam sebuah keluarga misalnya, tidak terlepas dari berbagai pengaruh yang bisa membawa seorang anak tersebut ke arah yang lebih baik atau sebaliknya ke arah yang bersifat negatif.
Pengaruh-pengaruh yang bisa mempengaruhi perkembangan seorang anak misalnya, pengaruh yang datang dari dalam lingkungan keluarga maupun pengaruh yang datang dar luar lingkuang keluarga. Pengaruh yang datang di dalam lingkuangan keluarga misalnya dari kedua oran tua, saudara, maupun anggota-anggota keluarga lainnya. Pengaruh yang datang dari luar lingkungan keluarga misalnya lingkungan masyarakat sekitar, lingkungan sekolah, pergaulan sesama teman, berbagai media masa baik media cetak maupun media elektronik. Pengaruh yang ada di dalam lingkungan keluarga memegang peranan yang sangat penting dalam proses perkembangan seorang anak. Proses perkembangan seorang anak yang sangat di perhatikan adalah pada masa usia tingkat sekolah dasar (SD). Pada usia tingkat SD menjadi skala poritas perhatian orang tua karena pada usia ini, anak-anak berada dalam tahap perkembangan dan pertumbuhan. Pikiran anak masih bersifat polos dan lugu, sehingga apa yang dia lihat, dengarkan, rasakan dan dia peroleh dari pengajaran yang di berikan kepadanya bisa menjadi suatu pegangan bagi si anak.
B. Orang Tua Sebagai Tokoh Idola bagi Anak
Keberadaan orang tua di dalam sebuah keluarga, merupakan suatu hal yang wajar. Akan tetapi kehadiran orang tua yang benar-benar bisa membuat suasana keluarga terasa lebih bermakna merupakan sebuah pilihan. Masalah ini disebabkan karena kehadiran orang tua di tengah-tengah keluarga sering kali tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Anak-anak di dalam sebuah keluarga biasanya lebih dekat dengan pembantunya, tetangganya, maupun dengan tokoh-tokoh yang ada di dalam dunia film atau komik. Bahkan anak-anak pada usia tingkat SD dengan senangnya mengidolakan pembantunya, tetangganya, maupun tokoh-tokoh yang ada di dalam film dibandingkan kedua orang tuanya.
Pertanyaanya adalah mengapa hal ini bisa terjadi ? Kasus seperti ini memang sering terjadi bahkan sudah menjadi suatu budaya, karena kehadiran orang tua di dalam lingkungan keluarga tidak bisa menjadi tokoh yang yang idola bagi anak-anak mereka. Kehadiran orang tua seharusnya bisa menjadi tokoh idola bagi anak-anak mereka. Dengan demikian anak-anak yang berada di dalam usia perkembangan bisa lebih dekat dan akrab dengan orang tuanya. Peranan orang tua sebagai tokoh yang di idolakan oleh anaknya, akan membantu ke arah mana kehidupan sang anak mau di arahkan.
Untuk menjadi tokoh yang di idolakan oleh orang lain bahkan banyak orang tidak semudah kita mengucapkannnya. Sekalipun yang mengidolakan adalah anggota kelurga itu sendiri, bukan berarti konsep sebgai anggota keluarga merupakan suatu jaminan untuk bisa di idolakan. Ketika posisi orang tua sudah benar-benar bisa menjadi tokoh yang di idolakan oleh anak-anak mereka, pada saat seperi itulah orang tua dengan agak lebih mudah memberikan pengajaran, bimbingan, serta mengarahkan anak-anak mereka ke arah yang sifatnya positif. Perilaku, sikap, perbuatan tindakan dan segala sesuatu yang bisa ditiru dan diikuti oleh anak-anak yang di lakukan oleh orang tua hendaknya sesuatu yang seharusnya patut dicontoh dan ditiru oleh anak-anak. Ketika orang tua memang sudah benar-benar dianggap sebagai tokoh yang sungguh-sungguh diidolakan oleh anak-anak mereka, maka peilaku, sikap, perbuatan, dan tindakan yang dilakukan oleh orang tua akan cenderung ditiru oleh anak-anak.
C. Mengembangkan Kasih Sayang Afirmatif
Menyayangi anak dan memenuhi semua permintaan mereka merupakan dua hal yang berbeda. Kasih sayang yang afirmatif berarti menyediakan situasi yang baik bagi perkembangan emosi anak, dan mendukung melalui cara yang jelas dikenali oleh anak. Kasih sayang seperti ini lebih dari sekedar memberi pujian ketika anak mendapat nilai tinggi dalam ulangan, atau memeluk dan memberi ciuman pada saat tidur. Kasih sayang ini berarti melibatkan diri secara aktif dalam kehidupan emosi anak. Sebagaimana akan kita lihat, ini meliputi bermain bersama anak anda yang masih berada pada usia perkembangan khususnya tingkat SD.
Penelitian juga mengungkapkan bahwa hubungan yang terbuka dan saling menyayangi dengan anak akan memberikan efek jangka panjang berupa meningkatnya citra diri, keterampilan menguasai situasi dan mungkin kesehatan anak. Sebuah studi yang dilakukan oleh psikolog Linda Russek dan Gary Schwartz (dalam Lawrence E, Shapiro; 2001 : 29) pada pertemuan American Psychosomatic Society pada bulan Maret 1996 menunjukan pentingnya membangun hubungan yang positif dengan anak bagi masa depan mereka. Para peneliti ini melaporkan sebuah studi yang dimulai tiga puluh lima tahun sebelumnya ketika 87 mahasiswa Harvard College, semua berusia sekitar 20 tahun, diminta membuat kesan tertulis tentang bagaimana dahulu orang tua menyayangi dan mendukung mereka.
Sesudah mengamati responden yang sama tiga puluh lima tahun kemudian, ternyata waktu mereka masih menjadi mahasiswa menuliskan orang tua yang lebih penyayang, lebih jarang menderita penyakit serius dalam usia pertengahan, termasuk penyakit jantung dan hipertensi, lepas dari adanya faktor-faktor risiko penting seperti riwayat keluarga, usia, dan kebiasaan merokok. Seperti yang diramalkan, para mahasiswa yang dahulu mengeluh diperlakukan tidak adil oleh orang tua, sekarang menjadi orang-orang setengah baya yang sering mengalami sakit fisik yang serius.
Penelitian seperti ini menekankan peran penting kita dalam hal kesehatan mental dan fisik anak kita. Meningkatnya kecendrungan dikalangan ahli terapi anak untuk melatih orang tua melibatkan diri dalam terapi permainan bersama anak-anak mereka, menunjukan diterimanya prinsip ini secara positif.
Bagi anak-anak yang berada pada usia tingkat sekolah dasar (SD) dianjurkan agar orang tua menetapkan waktu khusus untuk berpartisifasi dengan anak-anaknya dalam kegiatan bermain. Selama waktu itu, orang tua harus menciptakan suasana yang tidak menuntut penilaian tetapi menarik, menggairahkan, dan menunjukan penerimaan.
D. Mengajarkan dengan Memberi Teladan
Apabila anak-anak menyaksikan kita dengan tenang mebahas sebuah masalah, menguraikan segala sesuatunya, dan menyelesaikan masalah tersebut, anak-anak dengan sendirinya bisa meniru perilaku tersebut. Sebaliknya jika orang tua menunjukan sikap yang mudah menyingung perasaaan orang lain, tidak mau kalah, maka perilaku seperti inipun akan menjadi suatu yang ditiru oleh mereka.
Dengan berbagai alasan psikologis, sebagian orang tua mungkin tidak mencontohkan keterampilan pemecahan masalah di rumah, walaupun sesungguhnya mereka juga bisa memecahkan segala persoalan. Sungguh sangat mengherankan mengapa orang tua begitu sering memperlakukan orang lain bahkan orang asing lebih baik dan lebih lembut dibandingkan waktu orang tua memperlakukan anak-anak mereka. Namun bila kita berusaha, hal ini tidak perlu terjadi. Sebagaimana yang diterangkan oleh psikolog sosial Dr. Loise Hart dalam The Winning Family (dalam Lawrence E. Shapiro; 2001 : 143), apabila orang tua menjalankan tanggung jawab atas peran mereka sebagai pemimpin dalam keluarga mereka merupakan teladan yang baik sekali bagi anak-anak mereka.
E. Keterlibatan Orang Tua Dalam Proses Belajar Anak
Dari sekian banyak orang tua, hanya sedikit saja yang mau melibatkan diri dalam pendidikan anaknya, tetapi jumlah mereka tampaknya terus bertambah. Gerakan “bersekolah di rumah” misalnya, telah diikuti oleh sejumlah orang tua yang tidak mengirim anak-anaknya kemanapun, tetapi menyediakan seratus persen kebutuhan pendidikan mereka. Gerakan ini kebanyakan diikuti oleh orang tua yang keyakinan keagamaan atau kekuatan politik yang kuat dan merasa bahwa sekolah umum akan melantarkan prinsip-prinsip dasar yang seharusnya dipelajari oleh anak- anaknya.
Jika kita memeperhatikan sekolah-sekolah dan keluarga-keluaga Jepang sebagai model untuk tercapainya prestasi akademik yang lebih tinggi, kita akan melihat orang tua Amerika pada umumnya tidak cukup memetingkan pendidikan anak-anaknya, termasuk tidak cukup menyediakan waktu untuk itu. Menurut Merry White dari Boston University (dalam Lawrence E. Shapiro; 2001 : 241), seorang pakar dalam pendidikan Jepang, cara orang tua melibatkan diri dalam pendidikan anak-anaknya merupakan titik berbedaaan yang nyata dari dua kebudayaan ini. Di Jepang tidak begitu memanfaatkan teknologi dalam ruang kelas mereka dibanding sekolah-sekolah Amerika pada umumnya, dan memusatkan perhatian pada kurikulum dasar dan metode pengajaran tradisional. Akan tetapi perbedaan yang mencolok pada ibu-ibu Jepang yang memandang pendidikan anak-anaknya sebagi tanggung jawab yang paling penting. Sementara orang tua Amerika pada umumnya lebih suka menyerahkan urusan pendidikan anaknya kepada pihak sekolah.
Meskipun kebanyakan keluaraga Amerika tidak dapat sepenuhnya meniru keluarga pada masyarakat Jepang, karena kaum ibu-ibu di Jepang bisa mengabdikan diri sepenuhnya kepada anak-anak dengan mengorbankan karier. Andaikan orang tua khususnya ibu-ibu yang ada di Indonesia ini, bisa menyisihkan satu jam saja dari masa aktif kita dalam sehari bagi anak-anak, ini akan memberikan peningkatan yang cukup signifikan dalam pengalaman pendidikan anak. Berkat perhatian khusus yang yang akan diterima anak, kita dapat berharap bahwa proses mereka bisa maju dengan laju yang lebih cepat.
Orang tua dapat memulai keterlibatan dengan anak dengan membiasakan diri dalam apa saja yang dipelajari oleh anak di dalam ruang kelasnya. Jika guru dari anak-anak tersebut belum memberitahu orang tua keterampilan-keterampilan atau informasi-informasi yang diajarkan setiap minggu, sebaiknya orang tua menanyakan kepada guru dari anak-anak mereka. guru-guru yang mengikuti kurikulum standar biasanya wajib menyusun satuan bahan pelajaran baik mingguan maupun harian. Guru-guru akan merasa senang jika para orang tua murid mereka meminta saliannya. Rencana pembelajaran itu biasanya menyatakan dengan jelas sasaran yang hendak dicapai dari bahan yang akan diajarkan, termasuk kriteria tentang bagaimana pencapaian sasaran itu dapat diuji atau diukur. Jika guru yang bersangkutan tidak bisa menyediakan informasi seperti ini berarti para orang tua harus mencari dari sumber lain.
Orang tua bisa mencari sumber informasi tersebut misalnya lewat toko buku, media cetak, maupun media elektronik. Media elektronik misalnya intrnet yang sekarang ini sudah populer. Pada internet disediakan sejumlah alamat (site) yang dapat membantu orang tua melibatkan diri dalam proses pendidikan anak melalui petualangan yang mengasikkan.
F. Orang Tua Harus Mengajarkan Pentingnya Kejujuran
Fakta dalam kehidupan sehari-hari membuktiakan bahwa anak-anak yang sering berbohong kebanyakaan berasal dari rumah tangga dengan orang tua yang juga sering berbohong. Selain itu, anak-anak yang berasal dari rumah tangga dengan pengawasan yang minim dari orang tua, bisa juga mengakibatkan bersikap tidak jujur.
Walaupun sedikit orang tua yang akan berkata bahwa mereka tidak pernah berbohong, orang tua harus sadar benar akibat kebohongan tersebut baik yang dilakukan langsung maupun tidak langsung. Sesuatu yang perlu diingat bahwa tidak ada alasan yang baik untuk berbohong kepada anak. Ini tidak berarti bahwa orang tua harus menceritakan semuanya kepada mereka. Jika ada sesuatu yang sangat pribadi atau di luar kemampuan pemahaman anak, katakan saja bahwa keadaanya memang demikian. Orang tua harus berusaha agar pentingnya kejujuran terus menjadi topik utama pembicaraan di dalam rumah.
G. Cara Orang Tua Mengajari Anak Mengendalikan Emosi
Tanpa keraguan, masalah emosi yang paling lazim di hadapi oleh anak-anak pada usia tingkat sekolah dasar adalah berhubungan dengan pengendalian amarah. Berdasarkan realitas sehari-hari pada saat ini, anak-anak yang dinyatakan pemarah, agresif, atau pembangkang lumayan besar jumlahnya. Kita telah lama mengetahui bahwa anak-anak banyak yang meniru perilaku negatif yang mereka tonton di televisi, tetapi ada juga sebagian anak-anak secara tidak sadar meniru perilaku yang positif.
Orang tua juga dapat mengajarkan pengendalian diri melalui bagian otak emosional dengan menyediakan berbagi pengalaman yang merangsang reaksi emosi positif. Program olah tubuh yang menantang, melakukan berbagai kegiatan yang beresiko tinggi tetapi dengan cara yang aman terbukti sangat populer untuk membantu anak-anak usia remaja agresif, membangun kepercayaan diri yang tinggi, dan kerjasama kelompok yang kompak.
Selain itu, ada cara lain yang lebih langsung untuk mengajari anak-anak mengendalikan emosinya dengan menggunakan keterampilan kognitif. Sebagai contoh banyak sekolah-sekolah di Amerika yang mengajari peserta didik untuk menyelesaikan konflik termasuk berunding dan menyelesaikan masalah diantra teman. Cara seperti ini bisa diterapkan oleh orang tua di dalam keluarga, sebagai salah satu cara untuk mengurangi pertengkaran antara saudara, maupun antara orang tua dengan anak.
Cara yang dapat dilakuakan adalah :
1. Anak harus duduk berhadapan dan sepakat untuk bekerja sama memecahkan suatu konflik. Mereka juga harus sepakat untuk saling menghormati pandangan saudara yang lain dan berhenti saling mengejek dan merendahkan.
2. Setiap anak harus menceritakan pendapatnya misalnya apa yang dia inginkan dan mengapa dia berbuat demikian. Setelah itu saudara yang lain juga menceritakan permasalahan itu. Perundingan akan berhasil bila semua bersepakat bahwa setiap dari mereka mempunyai hak untuk berpendapat dan menyampaikan permasalahnnya.
3. Aspek penting dalam perundingan adalah menciptakan solusi.
4. Setiap anak mengevaluasi setiap pilihan. Pada saat perundingan mereka seolah-olah berada di pihak yang sama, mencari hasil yang akan memecahkan permasalahan mereka.
5. Tahap yang terakhir anak-anak itu harus membuat persetujuan atau rencana kerja, di mana, dan bagaimana solusi tersebut dilaksanakan.
Pada umumnya anak-anak pasti mengalami kesulitan mengadalkan sendiri perundingan seperti ini, program penyelasaian masalah sering melatih anak-anak sebagai aktor menyelasaikan masalah, terutama perselisihan antara teman. Anak-anak yang berusia sembilan atau sepuluh tahun pun dapat dilatih untuk menjadi penengah dalam penyelesaian masalah. Dengan demikian secara tidak langsung berpengaruh kepada perkembangan mental emosional mereka.
H. Sesuatu yang dapat dilakukan Oleh Orang Tua Jika Anak Sulit Bergabung dengan Kelompok Sebaya
Jika anak-anak mengalami kesulitan dalam menemukan kelompok atau teman, karena alasan situasi dan karakter, orang tua mungkin akan merasakan kepedihan yang sama seperti keadaan anak mereka yang berada dalam posisi seperti itu.
Berikut ini beberapa solusi khusus untuk mendukung anak-anak jika ia mengalami penolakan dan isolasi sosial :
1. Bertindak sebagai teladan bagi anak dengan berpartisipasi dalam kelompok orang tua itu sendiri
Orang tua tidak akan bisa berharap banyak dari pengaruh yang dimiliki kepada anak-anak bila contoh yang orang tua berikan hanya sesekali saja. Jika orang tua belum aktif dalam kelompok-kelompok pergaulan dewasa yang berbeda, orang tua mungkin dapat mempertimbangkan manfaat positif pergaulan ini baik bagi orang tua maupun bagi anak-anak mereka. Sesuatu yang penting adalah bahwa anak-anak bisa merasakan makna kelompok-kelompok tersebut bagi orang tua. Seorang anak akan melihat begitu bersemangatnya sang ayah yang sedang berlatih tenis dengan kerabatnya. Peristiwa seperti ini kan membawa dampak kepada anak-anak. Mereka akan cendrung meniru untuk dapat bersosilisasi dengan teman sebaya mereka.
2. Dorong anak mencoba peran lain dalam kelompok keluarga
Kelompok pertama anak berada adalah keluarganya itu sendiri. Walaupun keluarga sang anak berbeda dari kelompok teman sebaya, kelompok keluarga ini dapat berfungsi sebagai wahana bagi mereka dalam mempelajari keterampilan kelompok tanpa takut mengalami penolakan. Rapat keluarga adalah saat bagi anak untuk mencoba berperan sebagi kelompok tertentu, berikan kesempatan kepada anak untuk mempraktekkan peran yang berbeda dalam kelompok. Sebagai contoh, waktu keluarga merencanakan liburan atau piknik, orang tua harus mengajukan suatu pendapat kepada anak mengenai rencana liburan atau piknik mereka.
Dalam kegiatan lain misalnya pada waktu merencanakan kegiatan minggu sore, anak bisa diberikan kesempatan memegang peran sebagai pemimpin, mengumpulkan pendapat setiap anggota keluarga, mengadakan perhitungan suara, dan mengumumkan keputusan akhir. Rapat di dalam sebuah keluarga harus merupakan salah satu prioritas utama yang harus dilakukan secara teratur. Rapat dalam keluarga idealnya adalah sekali dalam seminggu, agar ketika rapat secara tidak langsung anak-anak dapat belajar keterampilan dalam kelompok. Jika rapat dalam sebuah keluaraga dilakukan hanya pada waktu ada krisis dan waktu emosi sedang naik, anak-anak tidak akan begitu menikmati manfaat dari rasa saling memiliki dan peran serta dalam sebuah kelompok.
3. Mendorong anak bergabung dalam kelompok khusus yang terdiri dari anak-anak yang mirip dengan mereka
Semejak anak-anak berusia tujuh atau delapan tahun yang tentunya masih berada pada tingkat sekolah dasar, dorongan mereka untuk bergabung sebanyak mungkin kelompok sebaya yang bermacam-macam. Orang tua mungkin ingin mereka bergabung dengan kelompok besar seperti Gerakan Pramuka, namun fakta yang sering terjadi anak-anak yang mengalami penolakan sosial disekolah jarang berhasil dalam kelompok seperti ini. Mereka akan tetap mempunyai status sosial yang sama sebagai anggota yang dipinggirkan. Anak-anak yang mengalami kesulitan dengan kelompok anak-anak yang anggotanya sangat beragam lebih mungkin berhasil dalam kelompok yang lebih khusus, misalnya berdasarkan keterampilan, minat, tempat tinggal, dan pelayanan sosial. Kelompok-kelompok beteman khusus ini lebih mungkin menerima anak-anak dengan kepribadian, minat, dan keterampilan sosial yang kira-kira sama dengan mereka.
4. Mencari kelompok pelatihan keterampilan sosial formal bagi anak dengan masalah sosial ekstrem
Anak-anak yang mempunyai kesulitan dalam bergabung dengan sebuah kelompok sering tidak mempunyai keterampilan khusus, khususnya pada usia delapan atau sembilan tahun, mereka mungkin hanya bisa menguasai suatu keterampilan bila melalui pelatihan keterampilan sosial terstruktur bersama teman-teman sebaya mereka. Sekolah-sekolah di Eropa pada umumnya sudah mempunyai program pelatihan yang dirancang untuk membantu anak-anak mengembangkan kepekaan dan kesadaran sosial lebih besar akan pengaruh perilaku mereka bagi orang lain. Kelompok-kelompok dipandu oleh konselor atau guru yang terlatih, dalam suatu program pembentukan keterampilan secara sistematis yang berlangsung paling sedikit 20 kali pertemuan, dan menekankan penerapan keterampilan itu di luar kelompok, tetapi masih di dalam lingkungan sekolah.
Psikolog David Goevremont (dalam Lawrence E. Shapiro; 2001 : 214) menekankan bahwa kelompok pelatihan keterampilan sosial harus menggunakan situasi-situasi nyata yang bermacam-macam dalam program mereka dan menyertakan pekerjaan rumah berupa peninjauan diri dalam selang waktu setiap diadakan pertemuan. Guevremont juga menekankan pentingnya melanjutkan pertemuan-pertemuan meskipun program pelatihan formal telah selesai. Pertemuan-pertemuan ini akan membantu anak membicarakan masalah-masalah baru mereka yang timbul dan kesulitan-kesulitan yang belum teratasi. Kelompok pelatihan keterampilan sosial seperti ini hanya diperlukan jika anak-anak merasa terkucil meskipun orang tua sudah berusaha membantunya mendapatkan teman.
I. Sesuatu yang Dapat Dilakukan Orang Tua Agar Anak Bersikap Empati Terhadap Sesama
Sebagaimana yang telah kita ketahui baik itu empati, dasar semua keterampilan sosial secara alamiah ada pada sebagian besar anak. Secara umum anak laki-laki sama sosialnya dengan anak perempuan, tetapi mereka cendrung lebih suka memberikan bantuan fisik atau bertindak sebagai “pelindung” (misalnya membantu teman belajar mengendarai sepeda), sedangkan anak prempuan lebih suka memberikan dukungan psikologis (misalnya menghibur anak lain yang sedang sedih) baik kelas sosial maupun besarnya keluarga tampaknya tidak berhubungan dengan perilaku empati, walaupun seorang kakak umumnya lebih bersikap siap membantu di banding adik-adiknya. Perilaku saling membantu diantara kakak dan adik biasanya lebih besar bila beda usia diantara mereka lebih jauh.
Dengan kondisi yang sesuai ditambah dorongan alami pada anak-anak untuk membantu dan memahami orang lain, kita bisa berharap bahwa mereka lebih sering dan lebih konsisten menunjukkan perilaku empati terhadap orang lain. Apabila anak-anak bersikap tidak ramah, tidak peduli, bahkan kejam kepada orang lain orang tua harus bisa sering dapat melacak perilaku “tidak alami” ini pada lingkungan keluarga. Jika orang tua ingin membesarkan anak yang peduli dan sayang kepada orang lain, dan perilaku konsisten dengan perasaan-perasaan ini, inilah yang harus dapat orang tua lakukan.
1. Orang tua harus memberikan tuntutan kepada anak mengenai sikap peduli dan tanggung jawab.
Pada keluarga-keluarga tertentu, agama memegang peranan penting dalam perkembangan moral anak. Meskipun sebagian besar agama mengharuskan menghafal seperangkat ajaran moral, tetapi hafalan seperti ini tampaknya tidak begitu berpengaruh terhadap perilaku mereka. Cara orang tua menerapkan ajaran agama dalam menjalani hidup sehari-hari justru efektif dalam mempengruhi anak. Namun, ada juga kelompok keagamaan yang efektif dalam mengajarkan kepedulian kepada orang lain.
Jika orang tua ingin agar anak mereka lebih empati, lebih penyayang, dan lebih bertanggung jawab. Orang tua hendaknya harus bisa membuat peraturan keluarga yang jelas dan konsisten dan tidak mudah memberikan keringanan kepada mereka. Orang tua harus menuntut mereka bertanggung jawab. Anak-anak usia SD sudah bisa diminta untuk menjaga kebersihan diri, atau bahkan membantu pekerjaan-pekerjaan yang ringan misalnya memasang sendok, menyiapkan piring di atas meja makan, bagi anak perempuan misalnya mencuci piring juga bisa dilakukan. Pekerjaan rumah tangga dan tanggung jawab lain harus ditingkatkan sesuai dengan usia dan kemampuan anak serta tidak disertai dengan hadiah atau bahkan dengan uang saku. Anak-anak harus dituntut membantu orang di rumah, semata-mata karena membantu orang lain itu benar. Mendapatkan uang saku dan belajar mengelola uang adalah dua hal yang harus dipisahkan.
Jika orang tua mengiginkan anak-anak mereka berfikiran luas, peduli akan orang lain, dan bertanggung jawab, ada satu hal yang paling sederhana yang harus dilakuakan oleh orang tua yaitu : Perketat tuntutan kepada anak. Hal yang mudah misalnya anak-anak dituntut untuk bisa selalu merapikan tempat tidur mereka, dan mengerjakan pekerjaan rumah (PR) mereka. Untuk menghasilkan anak lebih bertanggung jawab, orang tuapun harus benar-benar bertanggung jawab, dan ini dapat dimulai dengan mengatasi godaan untuk berpendapat bahwa memanjakan anak tidak akan merusak, justru memanjakan akan berpotensi merusak anak.
J. Penutup
Proses perkembangan dan pertumbuhan anak-anak pada usia tingkat sekolah dasar (SD), banyak faktor yang mempengaruhinya. Faktor-faktor yang mempengaruhinya ada yang datang dari dalam keluarga itu sendiri maupun dari luar keluarga, misalnya di lingkungan sekolah, lingkungan teman bermain dan sebaya, serta lingkungan masyarakat tempat tinggal. Dari berbagai faktor-faktor yang mempengaruhi proses perkembangan dan pertumbuhan tersebut, orang tua merupakan wahana yang paling utama yang bertindak sebagai pemerhati perkembangan dan pertumbuhan anak-anak mereka khususnya pada usia tingkat sekolah dasar (SD).
Perkembangan dunia pada saat ini yang semakin pesat, tentu memberi berbagai dampak dalam proses kehidupan manusia. Dampak yang ditimbulkan bukan hanya dampak positif saja, melainkan juga dampak negatif. Dampak yang perlu diperhatikan dan diantisipasi oleh orang tua terhadap proses kehidupan perkembangan dan pertumbuhan anak-anak mereka, pada usia tingkat sekolah dasar adalah dampak negatif . Oleh karena itu, orang tua benar-benar memerlukan perhatian yang intensif dan memprioritaskan diri pada anak-anak mereka, khususnya pada usia perkembangan dan pertumbuhan tingkat sekolah dasar.
Daftar Pustaka
Shapiro, E. Lawrence. 2001. Mengajarkan Emotional Intelligence pada Anak. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.
Konstruktivisme Sebagai Suatu Pendekatan Untuk Mengajar Ilmu Pengetahuan
Sebagian kecil guru, hari pertama dalam mengajar merupakan hal yang menakutkan. Mereka ingin mengetahui apa yang akan mereka lakukan nantinya. Apakah mereka mempunyai pandangan tersendiri yang bisa diterapkan di hari pertamanya mengajar? Apakah pandangan tersebut cocok dan bisa diterima oleh para siswa? Menjadi guru mempunyai banyak tanggung jawab, memerlukan banyak strategi agar para siswa mampu mengerti tentang materi yang diberikan di sekolah. Dalam penerapan strategi yang digunakan mempunyai dampak terhadap siswa. Salah satu pendekatan yang digunakan guru dalam mengajarkan sains adalah pendekatan konstruktivisme, dimana menurut pandangan psikologi pendekatan ini bisa membangun kemampuan siswa yang diperoleh dari lingkungan sehingga menjadi pengalaman yang baru. Pengalaman tersebut akan berpengaruh dalam berinteraksi, sehingga dapat dipahami bahwa konstruktivisme mempertimbangkan tiga aspek belajar sains. Yang pertama konsepsi pribadi anak-anak, yang kedua konstruksi hubungan antara pribadi, yang ketiga konstruksi sebagai ilmu pengetahuan umum.
Ketika pendekatan konstruktivisme digunakan untuk mengajar sains pada anak anak usia SD mere ka sudah mempunyai pengalaman misalnya cahaya, bunyi, warna, dan suhu dimana pengalaman mereka itu menjadi dasar mereka dalam proses KBM. Situasi seperti ini memegang peranan yang sangat penting dalam pendekatan konstruktivisme dimana siswa bisa menjelaskan gagasan mereka kepada orang lain, situasi ini juga menciptakan kesempatan bagi siswa untuk mendengarkan gagasan dari siswa lain. Pada intinya manfaat utamanya adalah agar para siswa mampu memberikan gagasan mereka melalui berbicara sampai dengan mendengarkan gagasan orang lain. Aspek yang selanjutnya berhubungan dengan pengetahuan umum. Pelajaran sains mempunyai hubungan dengan ilmu pengetahuan lainnya. Pembelajaran ini mengajak anak-anak belajar dan melihat bagaimana sains ini diterapakan di dalam kehidupan nyata.
Didalam pendekatan konstruktivisme dalam pembelajaran sains, guru hanya menjadi pemandu. Seperti pada tiga aspek di atas penting juga untuk menyadarinya, bahwa tugas seorang murid tidak hanya mempelajari dari apa yang diberikan guru melainkan yang penting pertama menurut pendekatan konstruktivisme ini adalah lebih menggunakan pengetahuan siswa itu sendiri yang berhubungan dengan materi yang diajarkan untuk membantu mereka memahami atau memperjelas konsep mereka tentang sains. Sebagai guru yang terpenting adalah kita dapat memberikan motivasi dan pengalaman untuk siswa dalam mempelajari sains tersebut. Pendekatan konstruktivisme ini sangat penting bagi dunia pendidikan. Paling tidak mereka sudah mengetahui terlebih dahulu mengenai apa yang sedang diajarkan kepada mereka. Hal ini akan membuat mereka merasa bahwa betapa pentingnya pelajaran tersebut bagi mereka sehingga dapat meningkatkan pengetahuan mereka walaupun tdak menjadi seorang ilmuwan.
Ketika pendekatan konstruktivisme digunakan untuk mengajar sains pada anak anak usia SD mere ka sudah mempunyai pengalaman misalnya cahaya, bunyi, warna, dan suhu dimana pengalaman mereka itu menjadi dasar mereka dalam proses KBM. Situasi seperti ini memegang peranan yang sangat penting dalam pendekatan konstruktivisme dimana siswa bisa menjelaskan gagasan mereka kepada orang lain, situasi ini juga menciptakan kesempatan bagi siswa untuk mendengarkan gagasan dari siswa lain. Pada intinya manfaat utamanya adalah agar para siswa mampu memberikan gagasan mereka melalui berbicara sampai dengan mendengarkan gagasan orang lain. Aspek yang selanjutnya berhubungan dengan pengetahuan umum. Pelajaran sains mempunyai hubungan dengan ilmu pengetahuan lainnya. Pembelajaran ini mengajak anak-anak belajar dan melihat bagaimana sains ini diterapakan di dalam kehidupan nyata.
Didalam pendekatan konstruktivisme dalam pembelajaran sains, guru hanya menjadi pemandu. Seperti pada tiga aspek di atas penting juga untuk menyadarinya, bahwa tugas seorang murid tidak hanya mempelajari dari apa yang diberikan guru melainkan yang penting pertama menurut pendekatan konstruktivisme ini adalah lebih menggunakan pengetahuan siswa itu sendiri yang berhubungan dengan materi yang diajarkan untuk membantu mereka memahami atau memperjelas konsep mereka tentang sains. Sebagai guru yang terpenting adalah kita dapat memberikan motivasi dan pengalaman untuk siswa dalam mempelajari sains tersebut. Pendekatan konstruktivisme ini sangat penting bagi dunia pendidikan. Paling tidak mereka sudah mengetahui terlebih dahulu mengenai apa yang sedang diajarkan kepada mereka. Hal ini akan membuat mereka merasa bahwa betapa pentingnya pelajaran tersebut bagi mereka sehingga dapat meningkatkan pengetahuan mereka walaupun tdak menjadi seorang ilmuwan.
Label:
Pendidikan Non Formal
ALAM DIGUNAKAN BUKAN UNTUK DIKUASAI
PT MKS ditolak dari Bumi Pagar Gunong, “Banjur Karab”
Terasa resah hati dan perasaan kami mendengar PT MKS akan mengadakan Ekspansi kekuasaanya untuk menguasai dan masuk ke wilayah Dusun Banjur Karab pada awal tahun 2010. Sebagai masyarakat awam dan masyarakat adat yang menjunjung Adat Istiadat serta bergantung sepenuhnya dengan Alam sekitar sangat tidak mungkin untuk membiarkan begitu saja kepada PT MKS untuk masuk ke wilayah Dusun Banjur Karab. Keinginan dari PT MKS kami anggap tidak berpihak kepada kepentingan masayarakat Dusun Banjur Karab.
Akan tetapi Perusahan sangat pintar dan selalu berusaha untuk membujuk Masyarakat melalui berbagai cara yang kami anggap tidak layak untuk mereka lakukan kepada kami, khususnya wilayah Pagar Gunong yang berada di wilayah Dusun Banjur Karab. Beberapa cara yang dilakukan oeh PT MKS yang kami anggap sangat tidak rasional adalah seperti akan membuat peta HPK menjadi APL. Ini terbukti ketika perwakilan dari DISHUT KAL-BAR yang diwakili oleh Pak Duyeh sebagai ketua tim Pemetaan dating ke wilayah kami. Pada saat itu Kepala Dusun diajak untuk memonitor kearah Pramas dengan tujuan mencari titik koordinat di tengah Perkampungan Banjur. Sebagai masyarat awam yang tidak bisa memisahkan hidup kami dari alam secara terang-terangan kami menolak ajakan tersebut. Kemudian pada tanggal 2 febuari 2010 kami membuat pernyataan penolakan tehadap PT MKS yang akan beroperasi di wilayah kami. Penolakan tersebut langsung kami sampaikan di hadapan Manejer PT MKS yaitu Pak Rayen, dan bagian keungan Pak Rudi. Di lain tempat seperti Merangin Tim Kehutanan yang dipimpin oleh Pak Ahmad membuat Rentes di wilayah Dusun Banjur. Sebagian dari anggota perwakilan Dishut dibawa ke Kantor Desa Mekaraya yaitu Pak Edy dan Pak Luhut. Kemudian mereka ditanya oleh Masyarakat “siapa yang memberikan izin kepada mereka untuk merentes di wilayah Banjur……? Kemudian dengan santainya mereka menjawab “kami hanya utusan dari PT MKS” begitulah mereka menjawab pertanyaan kami.
Dengan banyak cara Disbun memanggil Tokoh Masyarakat dan Kepala Desa Sekecamatan Simpang Dua dan beberapa anggota Demong Adat diundang ke Ketapang. Hasilnya yaitu untuk mengadakan sosialisasi yang difasilitasi oleh Camat Simpang Dua Dra. C. Eny. Inilah yang menjadi pro kontra masyarakat Banjur dan Merangin yang cukup alot. Buntutnya adalah PT MKS dihukum Adat untuk yang ketiga kalinya oleh masyarakat Banjur dengan hukuman sebesar 80 real, dan digantung janji oleh masyarakat, jika perusahaan melakukan hal yang serupa akan dihukum mati karena sangat melanggar aturan Adat Istiadat di wilayah kami. Salah satu Adat Istiadat dan etika yang kami junjung tinggi sebagai masyarat Dusun Banjur Karab yaitu hutan bukan untuk dikuasai, tetapi hanya untuk dimanfaatkan demi kepentingan manusia agar aman sentosa dan bersahabat dengan alam. Sebagai lampiran jelas dibawah ini kami sampaikan pernyatan sikap secara tertulis masyarakat Dusun Bajur Karab terhadap PT MKS.
Penulis,
Patih Gagah Jualakng
Terasa resah hati dan perasaan kami mendengar PT MKS akan mengadakan Ekspansi kekuasaanya untuk menguasai dan masuk ke wilayah Dusun Banjur Karab pada awal tahun 2010. Sebagai masyarakat awam dan masyarakat adat yang menjunjung Adat Istiadat serta bergantung sepenuhnya dengan Alam sekitar sangat tidak mungkin untuk membiarkan begitu saja kepada PT MKS untuk masuk ke wilayah Dusun Banjur Karab. Keinginan dari PT MKS kami anggap tidak berpihak kepada kepentingan masayarakat Dusun Banjur Karab.
Akan tetapi Perusahan sangat pintar dan selalu berusaha untuk membujuk Masyarakat melalui berbagai cara yang kami anggap tidak layak untuk mereka lakukan kepada kami, khususnya wilayah Pagar Gunong yang berada di wilayah Dusun Banjur Karab. Beberapa cara yang dilakukan oeh PT MKS yang kami anggap sangat tidak rasional adalah seperti akan membuat peta HPK menjadi APL. Ini terbukti ketika perwakilan dari DISHUT KAL-BAR yang diwakili oleh Pak Duyeh sebagai ketua tim Pemetaan dating ke wilayah kami. Pada saat itu Kepala Dusun diajak untuk memonitor kearah Pramas dengan tujuan mencari titik koordinat di tengah Perkampungan Banjur. Sebagai masyarat awam yang tidak bisa memisahkan hidup kami dari alam secara terang-terangan kami menolak ajakan tersebut. Kemudian pada tanggal 2 febuari 2010 kami membuat pernyataan penolakan tehadap PT MKS yang akan beroperasi di wilayah kami. Penolakan tersebut langsung kami sampaikan di hadapan Manejer PT MKS yaitu Pak Rayen, dan bagian keungan Pak Rudi. Di lain tempat seperti Merangin Tim Kehutanan yang dipimpin oleh Pak Ahmad membuat Rentes di wilayah Dusun Banjur. Sebagian dari anggota perwakilan Dishut dibawa ke Kantor Desa Mekaraya yaitu Pak Edy dan Pak Luhut. Kemudian mereka ditanya oleh Masyarakat “siapa yang memberikan izin kepada mereka untuk merentes di wilayah Banjur……? Kemudian dengan santainya mereka menjawab “kami hanya utusan dari PT MKS” begitulah mereka menjawab pertanyaan kami.
Dengan banyak cara Disbun memanggil Tokoh Masyarakat dan Kepala Desa Sekecamatan Simpang Dua dan beberapa anggota Demong Adat diundang ke Ketapang. Hasilnya yaitu untuk mengadakan sosialisasi yang difasilitasi oleh Camat Simpang Dua Dra. C. Eny. Inilah yang menjadi pro kontra masyarakat Banjur dan Merangin yang cukup alot. Buntutnya adalah PT MKS dihukum Adat untuk yang ketiga kalinya oleh masyarakat Banjur dengan hukuman sebesar 80 real, dan digantung janji oleh masyarakat, jika perusahaan melakukan hal yang serupa akan dihukum mati karena sangat melanggar aturan Adat Istiadat di wilayah kami. Salah satu Adat Istiadat dan etika yang kami junjung tinggi sebagai masyarat Dusun Banjur Karab yaitu hutan bukan untuk dikuasai, tetapi hanya untuk dimanfaatkan demi kepentingan manusia agar aman sentosa dan bersahabat dengan alam. Sebagai lampiran jelas dibawah ini kami sampaikan pernyatan sikap secara tertulis masyarakat Dusun Bajur Karab terhadap PT MKS.
Penulis,
Patih Gagah Jualakng
Selasa, 13 April 2010
ArtikelSkripsi
UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR IPA MELALUI PENGOPTIMALAN MEDIA ALAT PERAGA BAGI SISWA KELAS IV SEKOLAH DASAR NEGERI CATURTUNGGAL 1 KEC. DEPOK KAB. SLEMAN
DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
Oleh:
Damaskus Beni (06108249009)
Pendidikan merupakan salah satu instrumen yang sangat berpengaruh bagi kemajuan suatu bangsa, dimana pendidikan dapat berperan penting demi tercapainya suatu bangsa yang maju dan berkembang di segala bidang, salah satu di antaranya adalah Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK). Semua negara tentunya menghendaki bangsanya bisa maju, berkembang dan memperoleh kesejahteraan di berbagai bidang, begitu juga dengan negara Indonesia. Melalui dunia pendidikan diharapkan lahirlah generasi-generasi penerus bangsa ini yang nantinya akan mengisi dan membawa kemajuan bangsa baik secara lokal, nasional, maupun di mata dunia. Prioritas pendidikan di negeri ini bukanlah suatu persepsi kulitatif belaka melainkan diperkuat oleh tujuan dari bangsa ini seperti yang tertuang dalam pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 alinea ke 4 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.
Kondisi riil di lapangan yang sedang terjadi saat ini pada masyarakat di sektor pendidikan sungguh sangat memprihatinkan bahkan merupakan sesuatu yang seharusnya tidak boleh terjadi. Hal itu dapat di lihat seperti, semberawutnya proses kegiatan pembelajaran di lapangan, kurangnya fasilitas penunjang untuk kegiatan belajar mengajar, tenaga pendidik atau guru yang kurang profesional, penggunaan media yang belum optimal dan masih banyak masalah-masalah yang lain belum bisa diselesaikan. Seperti Fenomena yang peneliti temui di SD Negeri Caturtunggal 1 Depok Sleman, dimana penggunaan media oleh guru pada saat berjalannya proses kegiatan belajar mengajar sangat minim. Padahal peran media dalam kegiatan belajar mengajar sangat diperlukan.
Beberapa fenomena yang dilihat oleh peneliti pada proses kegiatan belajar mengajar berlangsung di kelas IV SD Negeri Caturtunggal 1 boleh dikatakan memprihatinkan. Keprihatinan tersebut merujuk pada aktivitas kegiatan belajar mengajar di kelas tidak seperti yang diharapkan, hal ini dapat di lihat seperti ada beberapa siswa yang mengantuk, keluar masuk tanpa izin, siswa kurang memperhatikan gurunya, respon siswa yang kurang terhadap materi pembelajaran, beberapa siswa berbicara bersama temanya tanpa memperhatikan penjelasan guru, ada siswa yang tidur-tiduran, dan kondisi yang sangat memperihatinkan adalah ketika guru menyampaikan materi pelajaran media pembelajaran yang digunakan kurang optimal bahkan terkesan tanpa menggunakan media.
Kondisi seperti ini sering terlihat pada saat kegiatan belajar mengajar pada mata pelajaran IPA. Guru hanya menjelaskan materi menggunakan buku paket, mencatat materi lewat papan tulis, mendikte materi pelajaran, dan media yang digunakan hanya sedikit saja sementara siswa tidak dilibatkan langsung dalam praktik penggunaan media. Padahal dalam kegiatan belajar mengajar sangat diperlukan keterlibatan siswa untuk melakukan praktik langsung terhadap penggunaan media. Beberapa hal yang dapat menunjang kegiatan belajar mengajar misalnya metode yang digunakan guru harus sesuai dengan materi dan menarik bagi siswa, media yang digunakan diusahakan media yang berwujud nyata atau konkret. Contoh media yang bersifat konkret yaitu wujud nyata atau tiruan dari benda yang disampaikan seperti tumbuh-tumbuhan, alat peraga misalnya berupa bagian-bagian tubuh manusia dan hewan yang tebuat dari bahan palstik, alat peraga magnet berupa besi magnet, alat peraga tata surya yang terbuat dari palstik, miniatur wujud benda misalnya miniatur candi, dan contoh-contoh benda konkret lainnya.
Pembawaan guru yang mengajar hanya menggunakan buku paket, ceramah seperti membaca teks dan mencatat saja, mengakibatkan siswa merasa jenuh dan bosan tehadap pelajaran yang di sampaikan. Hal ini terlihat ketika guru sedang mengajar tanpa menggunakan media peraga pada mata pelajaran IPA, beberapa siswa terkesan tidak memperhatikan dengan baik. Misalnya siswanya diam saja tanpa memperhatikan dan merespon pelajaran, beberapa siswa lain ada yang tidur-tiduran dan ada juga yang ribut sendiri. Contoh lainya ada beberapa siswa yang keluar masuk ruangan kelas tanpa izin dan ada beberapa siswa yang saling melempar kertas. Berdasarkan dari fenomena tersebut, sudah layak dan sepantasnya pelaksana pendidikan baik itu pekerja pendidikan maupun guru sebagai pelaksana kegiatan pembelajaran di lapangan idealnya berusaha untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada.
Tidak bisa dipungkiri bahwa melalui dunia pendidikanlah regenerasi penerus bangsa ini bisa lahir, yang akan meneruskan perjalanan bangsa baik sekarang maupun di masa yang akan datang. Kita semua tentunya tidak asing lagi bahwa pendidikan merupakan salah satu aset yang memegang peranan begitu dominan, baik itu aset individu, keluarga, kelompok bahkan negara yang berupa investasi masa depan dan mempunyai prosfek hidup yang dapat diperhitungkan.
Dari berbagai tingkatan pendidikan formal yang ada di Indonesia, lembaga Sekolah Dasar (SD) merupakan tingkat lembaga pendidikan yang sangat menentukan perkembangan dan pertumbuhan para peserta didik. Persepsi ini sejalan dengan pendapat Piaget dalam M. Dalyono (2005: 39) bahwa pada tahap usia sekolah dasarlah (7-12 tahun) pekembangan dan pertumbuhan peserta didik dapat dibentuk dan dibina lebih baik. Maka sudah seharusnyalah tingkat sekolah dasar menjadi prioritas utama yang perlu diperhatiakan dalam pendidikan yang akan berdampak pada kelanjutan dari keberhasilan pada tingkat-tingkat selanjutnya.
Kelemahan guru dalam penyampaian materi pelajaran IPA kepada peserta didik kelas IV SD Negeri Caturtungal 1 dilatarbelakangi oleh beberapa faktor seperti cara atau metode yang digunakan kurang tepat dan tidak menarik minat atau kemauan belajar siswa misalnya hanya menggunakan metode ceramah. Slameto (2003: 651) menjelaskan bahwa guru yang mengajar dengan menggunakan metode ceramah saja, mengakibatkan siswa menjadi bosan, mengantuk, pasif, dan hanya mencatat. Media yang digunakan untuk menyampaikan materi kurang optimal dilaksanakan bahkan terkesan tidak memanfaatkan media. Dari berbagai faktor yang menjadi kendala tersebut faktor media berupa benda konkret merupakan faktor yang sangat berperan besar terhadap keberhasilan belajar siswa seperti yang disampaikan oleh Srini M. Iskandar (1996/1997: 29) bahwa anak-anak yang berada pada tahap berpikir konkret harus bekerja dengan benda-benda konkret dulu sebelum mereka dapat menangkap dan memahami hal-hal bersifat abstrak.
Dalam kegiatan belajar mengajar peran media sangat diperlukan. Media merupakan instrumen dari proses kegiatan pebelajaran yang berperan sebagai perentara dalam penyampaian materi pembelajaran. Kegiatan belajar mengajar akan berjalan dengan lancar dan materi pelajaran tersampaikan dengan baik kepada siswa jika media yang digunakan oleh pendidik atau guru merupakan media yang menarik, kontekstual, dan dapat berupa wujud nyata atau tiruan (Srini Iskandar 1996/1997: 29). Selama ini permasalah yang dijumpai adalah ketika guru menyampaikan suatu materi pelajaran kepada para siswa, mereka sering mengabaikan peran media dalam proses pembelajaran. Kejadian seperti ini tentunya merupakan permasalahan yang seharusnya tidak boleh dilakukan oleh guru. Penggunaan media dalam kegitan pembelajaran seharusnya diterapkan pada semua jenis mata pelajaran.
Penggunaan benda konkret berupa media alat peraga pada jenjang kelas IV SD akan lebih baik untuk diterapkan dan dimaksimalkan. Persepsi ini didukung oleh teori yang telah disampaikan oleh Piaget dalam C. Asri Budiningsih (2005: 38) bahwa anak usia Sekolah Dasar (7-12 tahun) kemampuan berpikir dan bernalar masih berada pada tahap operasional konkret. Begitu juga dengan media alat peraga yang didesain sedemikian rupa sehingga menyerupai bentuk aslinya dan ditampilkan dengan warna serta corak yang menarik tentunya akan meningkatkan kemauan dan motivasi belajar para siswa, apalagi pada mata pelajaran seperti IPA. Peningkatan kemauan dan motivasi belajar siswa tersebut diharapkan dapat mendongkrak prestasi belajar IPA para siswa, khususnya para siswa kelas IV SD Negeri Caturtunggal 1.
Bercermin dari kondisi seperti itu maka berbagai upaya seharusnya cepat, dan tepat untuk dilakukan dalam usaha memberikan perbaikan ke arah yang lebih baik. Usaha-usaha yang dilakukan diantaranya adalah dengan pengoptimalan penggunaan media alat peraga dalam proses kegiatan belajar mengajar pada mata pelajaran ilmu pengetahuan alam (IPA) kelas IV SD Negeri Caturtunggal 1.
Kamus besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga terbitan Departemen Pendidikan Nasional (2005: 895) mengatakan bahwa yang dimaksud dengan prestasi adalah hasil yang telah dicapai dari suatu yang telah dilakukan, dikerjakan dan lain sebagainya. Sementara itu, menurut Witherington dalam Dalyono (2005: 211) belajar adalah suatu perubahan di dalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola baru dari reaksi yang berupa kecepatan, sikap, kebiasaan, kepandaian, atau suatu pengertian. Dari definisi prestasi dan belajar yang telah disampaikan tersebut, dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar merupakan hasil yang telah dicapai dari suatu yang telah dilakukan, dikerjakan, dan dilaksanakan dalam rangka memperoleh suatu perubahan ke arah lebih baik oleh mereka yang ingin atau mempunyai kemauan belajar juga oleh pihak-pihak yang terlibat di dalam meraih prestasi belajar. Adapun pihak-pihak yang terlibat dalam meraih prestasi belajar tersebut misalnya keluarga, orang tua, guru, lingkungan sekolah dan lingkungan tempat tinggal.
Menurut Dengeng dalam Hamzah. B. Uno (2006: 2) pembelajaran adalah suatu upaya untuk membelajarkan siswa. Dari pengertian ini secara implisit bahwa dalam pembelajaran terdapat kegiatan memilih, menetapkan, mengembangkan metode untuk mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan. Sejalan dengan pendapat Dengeng tersebut, menurut Hamzah. B. Uno (2006: 2) pembelajaran memiliki hakikat perencanaan atau rangcangan (desain) sebagai upaya untuk membelajarkan siswa.
Istilah kata IPA merupakan singkatan dari kata “Ilmu pengetahuan Alam” kata IPA merupakan terjemahan dari kata-kata bahasa Inggris “Natural Science” secara singkat sering disebut “Science”. Natural artinya alamiah, berhubungan dengan alam atau bersangkut paut dengan segala sesuatu yang terdapat di alam ini. Science (bahasa Inggris) artinya Ilmu Pengetahuan, jadi Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) atau science itu secara harafiah dapat disebut sebagai Ilmu tentang alam ini, ilmu yang mempelajari peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitar alam ini. (Srini Iskandar, 1996/1997: 2). Sejalan dengan pendapat tersebut, Webster dalam Srini Iskandar (1996/1997: 2) mengatakan bahwa IPA adalah pengetahuan tentang alam dan gejala-gejalanya.
Dari berbagai pengertian tentang pembelajaran dan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) tersebut, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) adalah sebagai upaya atau tindakan yang dilakukan oleh guru bersama siswa dalam memberikan, menyampaikan dan menerima suatu disiplin ilmu yang telah diuji kebenaraannya dalam mempelajari tentang segala sesuatu yang terjadi dan yang terdapat di alam semesta ini. Pengujian tersebut dapat menggunakan dengan cara observasi dan eksperimen yang sistematik, serta dijelaskan dengan bantuan aturan-aturan, hukum-hukum, prinsip-prinsip, teori-teori dan hipotesa-hipotesa. Segala sesuatu yang dipelajari di alam semesta itu, baik berupa benda hidup maupun benda yang mati, baik kejadian atau peristiwa yang sudah terjadi, yang sedang terjadi maupun yang akan terjadi di alam semesta ini. Menurut Srini Iskandar (1996/1997: 16-18) ada beberapa alasan yang menyebabkan mata pelajaran IPA dimasukan ke dalam kurikulum suatu sekolah yaitu:
1. Bahwa IPA berfaedah bagi suatu bangsa. Kesejahteraan materil suatu bangsa banyak sekali bergantung pada kemampuan bangsa itu dalam bidang IPA, sebab IPA merupakan dasar dari teknologi. Sedangkan teknologi, sering disebut-sebut sebagai tulang punggung pembangunan. Suatu teknologi tidak akan berkembang pesat bila tidak didasari pengetahuan dasar yang memadai. Pengetahuan dasar untuk teknologi tersebut ialah IPA.
2. Bila diajarkan menurut cara yang tepat, IPA merupakan suatu mata pelajaran yang memberikan kesempatan latihan berpikir kritis. Misalnya menemukan sendiri dengan metode ini anak dihadapkan kepada suatu masalah, umpamanya masalah tersebut adalah ”Dapatkah tumbuhan hidup tanpa daun?” anak diminta untuk mencari cara menyelidiki hal seperti ini. Dari berbagai sarana yang di kemukakan anak, mereka dituntun merancang percobaan sederhana berikut. Sebatang tumbuhan yang daunya terus-menerus diambil (dipetik), setiap tumbuh sehelai daun, daun itu dipetik. Akibatnya tumbuhan tersebut mati maka didapatilah suatu kesimpulan.
3. IPA merupakan bagian dari kebudayaan suatu masyarakat atau bangsa. Kehidupan manusia sekarang ini banyak yang dipengaruhi oleh IPA, misalnya bahan pakaian yang terbuat dari bahan sintetis (serat buatan) sekarang merupakan bahan yang umum digunakan. Semakin banyak segi kehidupan manusia dipengaruhi oleh hasil-hasil Ilmu Pengetahuan Alam, maka dengan sendirinya IPA manjadi bagaian dari kebudayaan hidup manusia, sebab kebudayaan merupakan keseluruhan cara hidup suatu masyarakat atau bangsa.
Kata Media berasal dari bahasa Latin yaitu Medius. Secara harafiah Medius artinya tengah, perentara, pengantar (Basuki Wibawa dan Farida Mukti, 1997: 3). Dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan media ialah perentara dapat berupa benda, alat, maupun manusia sebagai perentara yang digunakan untuk menyampaikan sesuatu, pesan, materi pelajaran kepada orang lain agar apa yang disampaikan melalui media tersebut dapat terlaksana dengan baik.
Menurut Aristo Rahadi (2004: 8) yang dimaksud dengan alat peraga adalah alat atau benda yang digunakan untuk memperagakan fakta, konsep, prinsip atau prosedur tertentu agar kelihatan lebih konkret. Alat yang dimaksud adalah dapat berupa benda asli dan benda tiruan maupun benda yang dirancang sedemikian rupa sehingga bisa digunakan untuk memperagakan. Fungsi alat peraga. Ada enam fungsi pokok alat peraga dalam proses kegiatan belajar mengajar yaitu:
a. Penggunaan alat peraga dalam proses belajar mengajar bukan merupakan fungsi tambahan tetapi mempunyai fungsi tersendiri sebagai alat bantu untuk mewujudkan situasi belajar mengajar yang efektif.
b. Penggunaan alat peraga merupakan bagian yang integral dari keseluruhan situasi mengajar, berarti alat peraga merupakan salah satu faktor pendukung yang harus dikembangkan oleh guru.
c. Alat peraga dalam pengajaraan penggunaannya terintegral dengan tujuan dan isi pelajaran. Fungsi ini mengandung pengertian bahwa penggunaan alat peraga harus melihat tujuan dan bahan pelajaran.
d. Penggunaan alat peraga dalam pembelajaran bukan semata-mata alat untuk menghibur siswa, dalam arti digunakan hanya sekedar melengkapi saja, melainkan merupakan alat yang sangat diperlukan dalam proses belajar mengajar.
e. Penggunaan alat peraga dalam proses belajar mengajar lebih diutamakan untuk mempercepat proses belajar mengajar dan membantu siswa dalam menangkap materi yang disampaikan oleh guru.
f. Penggunaan alat peraga dalam proses belajar mengajar diutamakan untuk meningkatkan kualitas kegiatan belajar mengajar. Dengan kata lain menggunakan alat peraga akan berdampak positif pada hasil belajar menjadi lebih tahan lama atau mudah diingat dan dimengerti.
Jean Piaget seorang ilmuwan dari Prancis yang melakukan penelitian tentang perkembangan kognitif individu sejak tahun 1920 sampai 1964 (Nandang Budiman 2006: 44). Berdasarkan hasil penelitiannya, Piaget membagi proses perkembangan fungsi-fungsi dan perilaku kognitif ke dalam empat tahapan utama yang secara kualitatif setiap tahapan memunculkan karakteristik yang berbeda-beda. Tahapan perkembangan kognitif tersebut adalah periode sensori motorik (0,0-2,0), periode praoperasional (0,2-7,0), periode operasional konkret (7,0-11 atau 12,0), dan periode operasional formal (11,0 atau 12,0-14 atau 15,0). Sementara tindakan dilaksanakan dua siklus. Siklus pertama yaitu:
1. Kegiatan 1
a. Rancangan materi Pengaruh Gaya terhadap Gerak Benda
b. Rancangan pelaksanaan
1) Guru menjelaskan sedikit tentang materi yang dipelajari, kemudian guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok.
2) Alat peraga yang digunakan berupa mobil-mobilan, kertas polos dan kertas yang sudah dikepal, papan luncur permukaan halus dan kasar dengan ukuran sesuai keperluan, tiang penyangga, kelereng, batu kerikil ukuran kecil, styrofoam berbentuk bulat ukuran sebesar kelereng, plastisin berbentuk segi empat ukuran kecil, dinamometer, penggaris dan handout petunjuk pelaksanaan percobaan. Jumlah masing-masing alat peraga menyesuaikan dengan keperluan.
3) Langkah kerjanya yaitu (a) Siswa disuruh menjatuhkan styrofoam sebesar kelereng dan kelereng secara bersamaan dari ketinggian yang sama. Kegiatan selanjutnya siswa disuruh membandingkan kecepatan jatuh kedua benda tersebut berdasarkan ringan dan berat benda. (b) Siswa disuruh menjatuhkan kertas polos yang rapi dan kertas yang sudah dikepal dalam ukuran yang sama dari ketinggian yang sama. Langkah berikutnya siswa disuruh membandingkan kecepatan jatuh kedua benda tersebut berdasarkan luas permukaannya. (c) Siswa disuruh mendorong kelereng dan batu kerikil secara bergantian dari bagian atas papan peluncur pada tiang penyangga berbentuk bidang miring. Setelah itu siswa disuruh mengukur berapa jauh jarak yang ditempuh kedua benda tersebut dengan menggunakan penggaris. Langkah selanjutnya siswa disuruh membandingkan benda apa yang memiliki jarak tempuh lebih jauh berdasarkan luas permukaanya. (d) Siswa disuruh mendorong kelereng dan plastisin yang berbentuk segi empat secara bergantian dari atas papan luncur. Setelah itu siswa disuruh mengukur berapa jauh jarak yang ditempuh kedua benda tersebut dengan menggunakan penggaris. Langkah selanjutnya siswa disuruh membandingkan benda apa yang memiliki jarak tempuh lebih jauh berdasarkan bentuk benda. (e) Siswa disuruh mendorong mobil-mobilan dari bagian atas papan luncur yang memiliki permukaan rata. Langkah selanjutnya siswa disuruh mendorong mobil-mobilan dari bagian atas papan luncur yang memiliki permukaan kasar. Siswa kemudian disuruh mengukur berapa jauh jarak yang ditempuh oleh mobil-mobilan dengan mengunakan papan luncur permukaan rata dan papan luncur permukaan kasar. Selanjutnya siswa disuruh membandingkan jauh jarak yang ditempuh oleh mobil-mobilan yang menggunakan papan luncur permukaan rata dan yang menggunakan papan luncur permukaan kasar. Kegiatan akhir dari pelaksanaan ini, siswa disuruh mengumpulkan laporan hasil kerja kelompok di dalam panduan pelaksanaan percobaan yang sudah diberikan.
4) Selama siswa melakukan peragaan dan pengamatan, guru melakukan arahan dan bimbingan secara merata kepada setiap siswa.
c. Observasi. Peneliti mengamati proses kegiatan yang dilakukan siswa, kemudian mencatat
hasil pengamatan pada lembar atau format pengamatan yang sudah disiapkan.
2. Kegiatan 2
a. Rancangan materi Pengaruh Gaya terhadap Gerak Benda
b. Rancangan pelaksanaan
1) Guru menjelaskan sedikit tentang materi yang sudah dipelajari pada pertemuan pertama, kemudian guru membagikan alat peraga kepada setiap kelompok yang sudah dibentuk pada pertemuan pertama.
2) Alat peraga yang digunakan berupa mobil-mobilan, meja, kelereng, balok kayu ukuran kecil sesuai dengan keperluan, tali ukuran kecil panjang ±30 cm, penggaris, bola, ketapel, tiang penyangga, papan luncur permukaan rata, dan handout petunjuk pelaksanaan percobaan. Jumlah masing-masing alat peraga menyesuaikan dengan keperluan.
3) Langkah kerjanya yaitu (a) Siswa terlebih dahulu disuruh memasang tiang penyangga dan papan luncur yang membentuk sudut miring. Setelah tiang penyangga dan papan luncur siap untuk digunakan, kemudian siswa disuruh meletakan mobil-mobilan di bagian atas papan luncur kemudian dilepaskan. Siswa selanjutnya disuruh mengukur berapa jauh jarak yang ditempuh oleh mobil-mobilan tersebut. Siswa disuruh meletakan mobil-mobilan di bagian atas papan luncur, kemudian mobil-mobilan didorong ke arah bawah papan luncur yang berbentuk sudut miring. Kegiatan selanjutnya siswa disuruh menghitung dengan mengunakan penggaris berapa jauh jarak yang ditempuh oleh mobil-mobilan yang didorong. Siswa kemudian disuruh menyimpulkan bahwa gerak benda dipengaruhi oleh gaya dorong. (b) Siswa disuruh meletakan mobil-mobilan di atas meja, kemudian siswa disuruh memperhatikan apakah kedudukan mobil-mobilan tersebut berubah atau tidak. Kegiatan selanjutnya siswa disuruh menarik mobil-mobilan menggunakan tali ke arah depan, kemudian siswa disuruh mengamati kedudukan mobil-mobilan yang ditarik tadi apakah kedudukannya berubah atau tidak. Langkah terakhir siswa disuruh menyimpulkan bahwa gerak benda dipengaruhi oleh gaya tarik. (c) Siswa disuruh meletakan balok kayu ukuran kecil di atas meja, kemudian siswa disuruh mendorong kelereng dari arah berlawanan mengenai balok kayu. Selanjutnya siswa disuruh mengamti apakah arah pergerakan kelereng yang membentur balok kayu berubah atau tidak. Kegiatan terakhir adalah siswa disuruh menyimpulkan bahwa benturan antara kelereng dan balok kayu menyebabkan perubahan arah pergerakan kelereng.
4) Selama siswa melakukan peragaan dan pengamatan, guru melakukan arahan dan bimbingan secara merata kepada setiap siswa.
c. Observasi. Peneliti mengamati proses kegiatan yang dilakukan oleh siswa dan guru, kemudian mencatat hasil pengamatan pada lembar atau format pengamatan yang sudah disiapkan.
3. Post tes
a. Rancangan materi Pengaruh Gaya terhadap Gerak Benda.
1) Rancangan Pelaksanaan
a) Guru bersama peneliti membuat soal latihan tentang materi yang telah dipelajari.
b) Semua siswa diminta untuk mengerjakan soal latihan yang sudah dipelajari.
c) Selama siswa mengerjakan soal laihan, guru melakukan pengawasan secara merata kepada setiap siswa.
b. Observasi, peneliti mengamati dan mencatat kegiatan yang dilakukan siswa dan guru.
c. Refleksi. Setelah hasil pengamatan dianalisis, kemudian dilaksanakan pencatatan terhadap hal-hal yang diaggap perlu diperbaiki dan dikembangkan. Kegiatan ini dilakukan bertujuan untuk mempermudah melaksanakan langkah tindakan pada siklus berikutnya.
4. Rancangan tindakan pada siklus dua yaitu:
a. Kegiatan 1
1) Rancangan materi Pengaruh Gaya terhadap Bentuk Benda
2) Rancangan pelaksanaan
a) Guru menjelaskan tentang materi yang dipelajari, kemudian siswa melaksanakan praktik percobaan sesuai dengan kelompok yang sudah dibentuk pada siklus pertama.
b) Alat peraga yang digunakan berupa plastisin, kertas polos, gelang karet, kerupuk dan fotocopyan petunjuk percobaan. Jumlah masing-masing alat peraga menyesuaikan dengan keperluan.
c) Langkah kerjanya yaitu (a) Pertama siswa disuruh memperhatikan bagaimanakan bentuk gelang karet pertama-tama. Langkah berikutnya siswa disuruh memainkan gelang karet dengan menggunakan jari-jari tangan sehingga membentuk tiga bentuk benda sesuai dengan keinginan mereka. Langkah terakhir dari kegiatan ini siswa disuruh menuliskan nama bentuk benda yang sudah siswa buat dari bahan karet. (b) Siswa disuruh memperhatikan bentuk plastisin pertama-tama. Langkah berikutnya siswa disuruh membuat lima bentuk benda yang terbuat dari bahan plastisin sesuai dengan keinginan mereka. Langkah terakhir dari kegiatan ini siswa disuruh menuliskan nama bentuk benda yang sudah mereka buat dari bahan plastisin. (c) Siswa disuruh memperhatikan bentuk kerupuk pertama-tama. Langkah berikutnya siswa disuruh meremas kerupuk hingga bentuknya berubah. Langkah terakhir dari kegiatan ini siswa disuruh menuliskan bagaimanakah bentuk kerupuk yang sudah diremas. (d) Siswa disuruh memperhatikan bentuk kertas pertama-tama. Berikutnya siswa disuruh membuat lima bentuk benda yang terbuat dari bahan kertas. Langkah terakhir dari kegiatan ini siswa disuruh menuliskan nama bentuk benda yang sudah mereka buat dari bahan kertas. Kegiatan terakhir dari tindakan 1 siklus dua adalah siswa disuruh menuliskan kesimpulan dari hasil percobaan yang sudah dilaksanakan.
d) Selama siswa melaksanakan praktik peragaan, guru melakukan arahan dan bimbingan secara merata kepada semua siswa.
3) Observasi. Peneliti mengamati proses kegiatan yang dilakukan siswa dan guru, kemudian mencatat hasil pengamatan pada lembar atau format pengamatan yang sudah disiapkan.
b. Kegiatan 2
1) Rancangan materi Pengaruh Gaya terhadap Bentuk Benda
2) Rancangan pelaksanaan
a) Guru menjelaskan sedikit tentang materi yang sudah dipelajari pada pertemuan pertama, kemudian guru membagikan alat peraga kepada setiap kelompok yang sudah dibentuk pada pertemuan pertama.
b) Alat peraga yang digunakan berupa kawat kecil berbentuk spiral (pegas) ukuran ± 3 cm, balon karet, tali kecil panjang ± 30 cm, dan fotocopyan petunjuk percobaan. Jumlah masing-masing alat peraga menyesuaikan dengan keperluan.
c) Langkah kerjanya yaitu (a) Siswa disuruh memperhatikan bentuk balon karet pertama-tama. Langkah berikutnya siswa disuruh meniup balon karet secukupnya. Kegiatan terakhir siswa disuruh menulis nama bentuk balon setelah ditiup. (b) Siswa disuruh memperhatikan bentuk kawat spiral pertama-tama. Berikutnya siswa disuruh menekan dan melepaskan secara perlahan-lahan kedua ujung kawat berbentuk spiral dengan menggunakan jari tangan. Pada saat siswa menekan dan melepasakan kedua ujung kawat spiral siswa disuruh memperhatikan apa yang terjadi pada kawat tersebut. Siswa disuruh memasang tali pada kedua ujung kawat, kemudian tali yang sudah terpasang ditarik sekuat-kuatnya dari arah yang berlawanan. Langkah terakhir dari kegiatan ini siswa disuruh mencatat apa yang terjadi pada kawat spiral ketika ditarik dengan kuat pada kedua ujungnya. (c) Siswa disuruh mengisi tabel yang sudah tercantum pada petunjuk pelaksanaan percobaan.
c. Observasi. Peneliti mengamati proses kegiatan yang dilakukan siswa dan guru, kemudian mencatat hasil pengamatan pada lembar atau format pengamatan yang sudah disiapkan.
5. Post tes
a. Rancangan materi Pengaruh Gaya terhadap Bentuk Benda.
b. Rancangan Pelaksanaan
1) Guru bersama peneliti membuat soal latihan tentang materi yang telah dipelajari.
2) Semua siswa diminta untuk mengerjakan soal latihan yang sudah dipelajari.
3) Selama siswa mengerjakan soal laihan, guru melakukan pengawasan secara merata kepada setiap siswa.
c. Observasi, peneliti mengamati dan mencatat kegiatan yang dilakukan siswa dan guru.
d. Refleksi. Setelah hasil pengamatan dianalisis, kemudian dilaksanakan pencatatan terhadap hal-hal yang diaggap perlu diperbaiki dan dikembangkan. Kegiatan ini dilakukan bertujuan untuk memperbaiki kekurangan dan kelemahan yang terjadi pada siklus dua.
Metode pengumpulan data adalah cara yang dipergunakan oleh peneliti bersama guru kelas selaku tim untuk mengumpulkan data. Data dalam penelitian ini dikumpulkan oleh peneliti bersama dengan guru mata pelajaran IPA kelas IV SD Negeri Caturtunggal 1. Data bersumber dari dokumen sekolah berupa nilai rata-rata kelas ujian semester 1 pada mata pelajaran IPA. Data juga diperoleh dari interaksi peneliti bersama guru dan interaksi guru dengan siswa. Interaksi guru dengan siswa diperoleh mulai dari pelaksanaan tindakan pertama sampai dengan tindakan terakhir pada pembelajaran IPA siswa kelas IV SD Negeri Caturtunggal 1 dengan pengoptimalan penggunaan media alat peraga. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes dan observasi. Tes merupakan salah satu metode pengumpulan informasi dan data. Tes dalam penelitian ini adalah tes formatif yang digunakan untuk mengukur prestasi belajar IPA. Tes yang digunakan oleh peneliti untuk mengukur prestasi belajar IPA siswa kelas IV berupa soal tertulis pilihan ganda dan uraian. Materi tes yang digunakan oleh peneliti telah disesuaikan dengan materi pelajaran siswa kelas IV pada mata pelajaran IPA di Sekolah Dasar semester dua tahun ajaran 2009/2010. Observasi. Suharsimi Arikunto (2006: 15) mengemukakan bahwa observasi atau disebut dengan pengamatan mengikuti kegiatan pemusatan perhatian pada suatu objek penelitian. Metode observasi ini lebih cendrung untuk melihat dengan mengamati tingkah laku siswa secara langsung, maka alat yang paling utama adalah panca indera, terutama indera penglihatan. Observasi yang digunakan oleh peneliti dalam penelitian ini adalah observasi non partisipatif (nonparticipatory observation) yaitu pengamat tidak ikut serta dalam kegiatan, pengamat hanya berperan sebagai orang yang mengamati kegiatan. Guru mata pelajaran IPA kelas IV SD Negeri Caturtunggal 1 bersama peneliti menggunakan panduan observasi untuk mengamati tindak belajar siswa dalam mengikuti pembelajaran IPA dengan media alat peraga.
Dalam penelitian ini, kegiatan analisis data dimulai sejak awal sampai akhir tindakan. Data yang dianalisis pada awal sampai akhir tindakan yaitu data yang diobservasi, sementara data prestasi belajar IPA siswa kelas IV dianalisis pada akhir setiap siklus melalui tes. Data prestasi belajar IPA siswa kelas IV diperoleh dari perhitungan nilai hasil tes pada akhir tindakan setiap siklus. Hasil tes siswa tersebut kemudian dianalisis dan dibandingkan dengan data awal berupa hasi ujian akhir semester satu terhadap data hasil tes belajar IPA siswa kelas IV SD Negeri Caturtunggal 1 melalui pengoptimalan media alat peraga.
Penelitian ini dilaksanakan dua siklus. Siklus pertama terdiri dari dua tindakan dan siklus kedua terdiri dari dua tindakan. Siklus pertama tindakan pertama dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 23 Januari 2010, dan tindakan kedua dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 27 Januari 2010. Pelaksanaan kegiatan siklus satu yang dimulai dari tindakan pertama sampai tindakan kedua dan post tes, sudah ada perbaikan dalam bentuk peningkatan nilai rata-rata kelas dari 56,63 naik menjadi 60,77. Akan tetapi pada proses pelaksanaannya mengalami berbagai hambatan. Indikasi hambatan yang terjadi diperoleh peneliti melalui observasi dari tindakan satu sampai tindakan dua siklus pertama. Hambatan yang terjadi pada siklus satu menjadi bahan evaluasi dan refleksi peneliti bersama guru untuk melaksanakan siklus berikutnya. Upaya perbaikan yang dilakukan oleh peneliti bersama guru mengalami keberhasilan. Keberhasilan yang dimaksud adalah adanya peningkatan nilai rata-rata kelas pada siklus dua bila dibandingkan dengan siklus satu. Nilai rata-rata kelas pada siklus pertama 60,77 pada siklus dua meningkat menjadi 70,97.
Pada siklus dua beberapa hambatan tersebut mulai diperbaiki melalui hasil evaluasi dan refleksi peneliti bersama guru. Perbaikan yang dilakukan bertujuan agar apa yang menjadi hambatan dan kekurangan pada siklus pertama dapat teratasi pada siklus dua. Beberapa hambatan yang diperbaiki oleh peneliti bersama guru pada siklus dua yaitu meningkatkan pengawasan terhadap siswa yang dianggap sering menimbulkan kekacauan, mondar-mandir di dalam kelas, menganggu kegiatan pembelajaran, dan kepada siwa yang kurang bahkan tidak memperhatikan penjelasan guru. Contoh lain dari refleksi yang dilakukan adalah guru menyampaikan materi dengan ritme pelan, dalam menyampaikan materi selalu melakukan pengulangan, dan meningkatkan mobilitas gerak di dalam kelas. Pada saat praktik percobaan dilaksanakan guru meningkatkan pengarahan dan pengawasan kepada setiap siswa. Praktik percobaan dilakukan secara perlahan mulai dari tahap pertama sampai dengan tahap terakhir sesuai dengan petunjuk yang sudah disusun sebelumnya.
Pandangan Piaget dalam C. Asri Budiningsih (2005: 38) yang mengatakan bahwa anak usia Sekolah Dasar (7-12 tahun) kemampuan berpikir dan bernalar masih berada pada tahap operasional konkret, merupakan sebuah pandangan yang relevan dengan penerapan alat peraga dalam pembelajaran. Melalui penggunaan alat peraga siswa bisa memahami materi lebih jelas dan dalam, karena siswa sendiri ikut dilibatkan langsung berupa mengamati dan praktik percobaan.
Keterlibatan siswa secara langsung dalam menggunakan media alat peraga dilakukan melalui pembagian siswa menjadi beberapa kelompok. Pembagian yang ideal adalah satu kelompok terdiri dari dua siswa. Dengan jumlah satu kelompok terdiri dari dua siswa, maka siswa dapat secara bergantian untuk mempraktikan langsung media alat peraga yang digunakan. Cara yang digunakan untuk praktik berdasarkan petunjuk percobaan yang sudah disusun. Keterlibatan siswa secara langsung dalam praktik media alat peraga dapat memberikan keberhasilan dalam pembelajaran.
Pengoptimalan penggunaan media alat peraga dapat meningkatkan prestasi belajar IPA siswa kelas IV SD Negeri Caturtunggal 1, Kec. Depok, Kab. Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta berupa peningkatan nilai rata-rata kelas. Nilai rata-rata kelas mata pelajaran IPA siswa kelas IV pada kondisi awal sebelum diberikan perlakuan adalah 56,63 meningkat menjadi 60,77 pada siklus pertama. Berdasarkan upaya perbaikan yang dilakukan oleh peneliti bersama dengan guru melalui evaluasi dan refleksi maka pada siklus kedua nilai rata-rata kelas mengalami kenaikan lagi yaitu 70,97.
Peneliti menyarankan kepada guru mata pelajaran IPA kelas IV sebaiknya mengoptimalkan penggunaan media alat peraga yang sudah ada di sekolah. Guru mata pelajaran IPA kelas IV sebaiknya menggunakan alat peraga IPA dalam pembelajaran secara optimal, dimana siswa diusahakan untuk dilibatkan melakukan praktik langsung bukan hanya guru yang menggunakan media melainkan siswa juga terlibat langsung. Guru mata pelajaran IPA kelas IV sebaiknya ketika melaksanakan pembelajaran diharapkan melakukan pengawasan dan bimbingan yang merata kepada setiap siswa. Selain itu khusus untuk siswa yang dianggap berpotensi menimbulkan ketidakkondisifan diharapkan mendapat perhatian khusus. Kepada Kepala Sekolah SD Negeri Caturtunggal 1, sekolah hendaknya memfasilitasi guru dalam pelaksanaan pembelajaran IPA dengan mengoptimalkan media alat peraga yang sudah tersedia di sekolah. Kepala Sekolah hendaknya bertindak sebagai perentara dalam pengadaan fasilitas media alat peraga IPA secara memadai.
DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
Oleh:
Damaskus Beni (06108249009)
Pendidikan merupakan salah satu instrumen yang sangat berpengaruh bagi kemajuan suatu bangsa, dimana pendidikan dapat berperan penting demi tercapainya suatu bangsa yang maju dan berkembang di segala bidang, salah satu di antaranya adalah Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK). Semua negara tentunya menghendaki bangsanya bisa maju, berkembang dan memperoleh kesejahteraan di berbagai bidang, begitu juga dengan negara Indonesia. Melalui dunia pendidikan diharapkan lahirlah generasi-generasi penerus bangsa ini yang nantinya akan mengisi dan membawa kemajuan bangsa baik secara lokal, nasional, maupun di mata dunia. Prioritas pendidikan di negeri ini bukanlah suatu persepsi kulitatif belaka melainkan diperkuat oleh tujuan dari bangsa ini seperti yang tertuang dalam pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 alinea ke 4 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.
Kondisi riil di lapangan yang sedang terjadi saat ini pada masyarakat di sektor pendidikan sungguh sangat memprihatinkan bahkan merupakan sesuatu yang seharusnya tidak boleh terjadi. Hal itu dapat di lihat seperti, semberawutnya proses kegiatan pembelajaran di lapangan, kurangnya fasilitas penunjang untuk kegiatan belajar mengajar, tenaga pendidik atau guru yang kurang profesional, penggunaan media yang belum optimal dan masih banyak masalah-masalah yang lain belum bisa diselesaikan. Seperti Fenomena yang peneliti temui di SD Negeri Caturtunggal 1 Depok Sleman, dimana penggunaan media oleh guru pada saat berjalannya proses kegiatan belajar mengajar sangat minim. Padahal peran media dalam kegiatan belajar mengajar sangat diperlukan.
Beberapa fenomena yang dilihat oleh peneliti pada proses kegiatan belajar mengajar berlangsung di kelas IV SD Negeri Caturtunggal 1 boleh dikatakan memprihatinkan. Keprihatinan tersebut merujuk pada aktivitas kegiatan belajar mengajar di kelas tidak seperti yang diharapkan, hal ini dapat di lihat seperti ada beberapa siswa yang mengantuk, keluar masuk tanpa izin, siswa kurang memperhatikan gurunya, respon siswa yang kurang terhadap materi pembelajaran, beberapa siswa berbicara bersama temanya tanpa memperhatikan penjelasan guru, ada siswa yang tidur-tiduran, dan kondisi yang sangat memperihatinkan adalah ketika guru menyampaikan materi pelajaran media pembelajaran yang digunakan kurang optimal bahkan terkesan tanpa menggunakan media.
Kondisi seperti ini sering terlihat pada saat kegiatan belajar mengajar pada mata pelajaran IPA. Guru hanya menjelaskan materi menggunakan buku paket, mencatat materi lewat papan tulis, mendikte materi pelajaran, dan media yang digunakan hanya sedikit saja sementara siswa tidak dilibatkan langsung dalam praktik penggunaan media. Padahal dalam kegiatan belajar mengajar sangat diperlukan keterlibatan siswa untuk melakukan praktik langsung terhadap penggunaan media. Beberapa hal yang dapat menunjang kegiatan belajar mengajar misalnya metode yang digunakan guru harus sesuai dengan materi dan menarik bagi siswa, media yang digunakan diusahakan media yang berwujud nyata atau konkret. Contoh media yang bersifat konkret yaitu wujud nyata atau tiruan dari benda yang disampaikan seperti tumbuh-tumbuhan, alat peraga misalnya berupa bagian-bagian tubuh manusia dan hewan yang tebuat dari bahan palstik, alat peraga magnet berupa besi magnet, alat peraga tata surya yang terbuat dari palstik, miniatur wujud benda misalnya miniatur candi, dan contoh-contoh benda konkret lainnya.
Pembawaan guru yang mengajar hanya menggunakan buku paket, ceramah seperti membaca teks dan mencatat saja, mengakibatkan siswa merasa jenuh dan bosan tehadap pelajaran yang di sampaikan. Hal ini terlihat ketika guru sedang mengajar tanpa menggunakan media peraga pada mata pelajaran IPA, beberapa siswa terkesan tidak memperhatikan dengan baik. Misalnya siswanya diam saja tanpa memperhatikan dan merespon pelajaran, beberapa siswa lain ada yang tidur-tiduran dan ada juga yang ribut sendiri. Contoh lainya ada beberapa siswa yang keluar masuk ruangan kelas tanpa izin dan ada beberapa siswa yang saling melempar kertas. Berdasarkan dari fenomena tersebut, sudah layak dan sepantasnya pelaksana pendidikan baik itu pekerja pendidikan maupun guru sebagai pelaksana kegiatan pembelajaran di lapangan idealnya berusaha untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada.
Tidak bisa dipungkiri bahwa melalui dunia pendidikanlah regenerasi penerus bangsa ini bisa lahir, yang akan meneruskan perjalanan bangsa baik sekarang maupun di masa yang akan datang. Kita semua tentunya tidak asing lagi bahwa pendidikan merupakan salah satu aset yang memegang peranan begitu dominan, baik itu aset individu, keluarga, kelompok bahkan negara yang berupa investasi masa depan dan mempunyai prosfek hidup yang dapat diperhitungkan.
Dari berbagai tingkatan pendidikan formal yang ada di Indonesia, lembaga Sekolah Dasar (SD) merupakan tingkat lembaga pendidikan yang sangat menentukan perkembangan dan pertumbuhan para peserta didik. Persepsi ini sejalan dengan pendapat Piaget dalam M. Dalyono (2005: 39) bahwa pada tahap usia sekolah dasarlah (7-12 tahun) pekembangan dan pertumbuhan peserta didik dapat dibentuk dan dibina lebih baik. Maka sudah seharusnyalah tingkat sekolah dasar menjadi prioritas utama yang perlu diperhatiakan dalam pendidikan yang akan berdampak pada kelanjutan dari keberhasilan pada tingkat-tingkat selanjutnya.
Kelemahan guru dalam penyampaian materi pelajaran IPA kepada peserta didik kelas IV SD Negeri Caturtungal 1 dilatarbelakangi oleh beberapa faktor seperti cara atau metode yang digunakan kurang tepat dan tidak menarik minat atau kemauan belajar siswa misalnya hanya menggunakan metode ceramah. Slameto (2003: 651) menjelaskan bahwa guru yang mengajar dengan menggunakan metode ceramah saja, mengakibatkan siswa menjadi bosan, mengantuk, pasif, dan hanya mencatat. Media yang digunakan untuk menyampaikan materi kurang optimal dilaksanakan bahkan terkesan tidak memanfaatkan media. Dari berbagai faktor yang menjadi kendala tersebut faktor media berupa benda konkret merupakan faktor yang sangat berperan besar terhadap keberhasilan belajar siswa seperti yang disampaikan oleh Srini M. Iskandar (1996/1997: 29) bahwa anak-anak yang berada pada tahap berpikir konkret harus bekerja dengan benda-benda konkret dulu sebelum mereka dapat menangkap dan memahami hal-hal bersifat abstrak.
Dalam kegiatan belajar mengajar peran media sangat diperlukan. Media merupakan instrumen dari proses kegiatan pebelajaran yang berperan sebagai perentara dalam penyampaian materi pembelajaran. Kegiatan belajar mengajar akan berjalan dengan lancar dan materi pelajaran tersampaikan dengan baik kepada siswa jika media yang digunakan oleh pendidik atau guru merupakan media yang menarik, kontekstual, dan dapat berupa wujud nyata atau tiruan (Srini Iskandar 1996/1997: 29). Selama ini permasalah yang dijumpai adalah ketika guru menyampaikan suatu materi pelajaran kepada para siswa, mereka sering mengabaikan peran media dalam proses pembelajaran. Kejadian seperti ini tentunya merupakan permasalahan yang seharusnya tidak boleh dilakukan oleh guru. Penggunaan media dalam kegitan pembelajaran seharusnya diterapkan pada semua jenis mata pelajaran.
Penggunaan benda konkret berupa media alat peraga pada jenjang kelas IV SD akan lebih baik untuk diterapkan dan dimaksimalkan. Persepsi ini didukung oleh teori yang telah disampaikan oleh Piaget dalam C. Asri Budiningsih (2005: 38) bahwa anak usia Sekolah Dasar (7-12 tahun) kemampuan berpikir dan bernalar masih berada pada tahap operasional konkret. Begitu juga dengan media alat peraga yang didesain sedemikian rupa sehingga menyerupai bentuk aslinya dan ditampilkan dengan warna serta corak yang menarik tentunya akan meningkatkan kemauan dan motivasi belajar para siswa, apalagi pada mata pelajaran seperti IPA. Peningkatan kemauan dan motivasi belajar siswa tersebut diharapkan dapat mendongkrak prestasi belajar IPA para siswa, khususnya para siswa kelas IV SD Negeri Caturtunggal 1.
Bercermin dari kondisi seperti itu maka berbagai upaya seharusnya cepat, dan tepat untuk dilakukan dalam usaha memberikan perbaikan ke arah yang lebih baik. Usaha-usaha yang dilakukan diantaranya adalah dengan pengoptimalan penggunaan media alat peraga dalam proses kegiatan belajar mengajar pada mata pelajaran ilmu pengetahuan alam (IPA) kelas IV SD Negeri Caturtunggal 1.
Kamus besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga terbitan Departemen Pendidikan Nasional (2005: 895) mengatakan bahwa yang dimaksud dengan prestasi adalah hasil yang telah dicapai dari suatu yang telah dilakukan, dikerjakan dan lain sebagainya. Sementara itu, menurut Witherington dalam Dalyono (2005: 211) belajar adalah suatu perubahan di dalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola baru dari reaksi yang berupa kecepatan, sikap, kebiasaan, kepandaian, atau suatu pengertian. Dari definisi prestasi dan belajar yang telah disampaikan tersebut, dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar merupakan hasil yang telah dicapai dari suatu yang telah dilakukan, dikerjakan, dan dilaksanakan dalam rangka memperoleh suatu perubahan ke arah lebih baik oleh mereka yang ingin atau mempunyai kemauan belajar juga oleh pihak-pihak yang terlibat di dalam meraih prestasi belajar. Adapun pihak-pihak yang terlibat dalam meraih prestasi belajar tersebut misalnya keluarga, orang tua, guru, lingkungan sekolah dan lingkungan tempat tinggal.
Menurut Dengeng dalam Hamzah. B. Uno (2006: 2) pembelajaran adalah suatu upaya untuk membelajarkan siswa. Dari pengertian ini secara implisit bahwa dalam pembelajaran terdapat kegiatan memilih, menetapkan, mengembangkan metode untuk mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan. Sejalan dengan pendapat Dengeng tersebut, menurut Hamzah. B. Uno (2006: 2) pembelajaran memiliki hakikat perencanaan atau rangcangan (desain) sebagai upaya untuk membelajarkan siswa.
Istilah kata IPA merupakan singkatan dari kata “Ilmu pengetahuan Alam” kata IPA merupakan terjemahan dari kata-kata bahasa Inggris “Natural Science” secara singkat sering disebut “Science”. Natural artinya alamiah, berhubungan dengan alam atau bersangkut paut dengan segala sesuatu yang terdapat di alam ini. Science (bahasa Inggris) artinya Ilmu Pengetahuan, jadi Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) atau science itu secara harafiah dapat disebut sebagai Ilmu tentang alam ini, ilmu yang mempelajari peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitar alam ini. (Srini Iskandar, 1996/1997: 2). Sejalan dengan pendapat tersebut, Webster dalam Srini Iskandar (1996/1997: 2) mengatakan bahwa IPA adalah pengetahuan tentang alam dan gejala-gejalanya.
Dari berbagai pengertian tentang pembelajaran dan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) tersebut, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) adalah sebagai upaya atau tindakan yang dilakukan oleh guru bersama siswa dalam memberikan, menyampaikan dan menerima suatu disiplin ilmu yang telah diuji kebenaraannya dalam mempelajari tentang segala sesuatu yang terjadi dan yang terdapat di alam semesta ini. Pengujian tersebut dapat menggunakan dengan cara observasi dan eksperimen yang sistematik, serta dijelaskan dengan bantuan aturan-aturan, hukum-hukum, prinsip-prinsip, teori-teori dan hipotesa-hipotesa. Segala sesuatu yang dipelajari di alam semesta itu, baik berupa benda hidup maupun benda yang mati, baik kejadian atau peristiwa yang sudah terjadi, yang sedang terjadi maupun yang akan terjadi di alam semesta ini. Menurut Srini Iskandar (1996/1997: 16-18) ada beberapa alasan yang menyebabkan mata pelajaran IPA dimasukan ke dalam kurikulum suatu sekolah yaitu:
1. Bahwa IPA berfaedah bagi suatu bangsa. Kesejahteraan materil suatu bangsa banyak sekali bergantung pada kemampuan bangsa itu dalam bidang IPA, sebab IPA merupakan dasar dari teknologi. Sedangkan teknologi, sering disebut-sebut sebagai tulang punggung pembangunan. Suatu teknologi tidak akan berkembang pesat bila tidak didasari pengetahuan dasar yang memadai. Pengetahuan dasar untuk teknologi tersebut ialah IPA.
2. Bila diajarkan menurut cara yang tepat, IPA merupakan suatu mata pelajaran yang memberikan kesempatan latihan berpikir kritis. Misalnya menemukan sendiri dengan metode ini anak dihadapkan kepada suatu masalah, umpamanya masalah tersebut adalah ”Dapatkah tumbuhan hidup tanpa daun?” anak diminta untuk mencari cara menyelidiki hal seperti ini. Dari berbagai sarana yang di kemukakan anak, mereka dituntun merancang percobaan sederhana berikut. Sebatang tumbuhan yang daunya terus-menerus diambil (dipetik), setiap tumbuh sehelai daun, daun itu dipetik. Akibatnya tumbuhan tersebut mati maka didapatilah suatu kesimpulan.
3. IPA merupakan bagian dari kebudayaan suatu masyarakat atau bangsa. Kehidupan manusia sekarang ini banyak yang dipengaruhi oleh IPA, misalnya bahan pakaian yang terbuat dari bahan sintetis (serat buatan) sekarang merupakan bahan yang umum digunakan. Semakin banyak segi kehidupan manusia dipengaruhi oleh hasil-hasil Ilmu Pengetahuan Alam, maka dengan sendirinya IPA manjadi bagaian dari kebudayaan hidup manusia, sebab kebudayaan merupakan keseluruhan cara hidup suatu masyarakat atau bangsa.
Kata Media berasal dari bahasa Latin yaitu Medius. Secara harafiah Medius artinya tengah, perentara, pengantar (Basuki Wibawa dan Farida Mukti, 1997: 3). Dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan media ialah perentara dapat berupa benda, alat, maupun manusia sebagai perentara yang digunakan untuk menyampaikan sesuatu, pesan, materi pelajaran kepada orang lain agar apa yang disampaikan melalui media tersebut dapat terlaksana dengan baik.
Menurut Aristo Rahadi (2004: 8) yang dimaksud dengan alat peraga adalah alat atau benda yang digunakan untuk memperagakan fakta, konsep, prinsip atau prosedur tertentu agar kelihatan lebih konkret. Alat yang dimaksud adalah dapat berupa benda asli dan benda tiruan maupun benda yang dirancang sedemikian rupa sehingga bisa digunakan untuk memperagakan. Fungsi alat peraga. Ada enam fungsi pokok alat peraga dalam proses kegiatan belajar mengajar yaitu:
a. Penggunaan alat peraga dalam proses belajar mengajar bukan merupakan fungsi tambahan tetapi mempunyai fungsi tersendiri sebagai alat bantu untuk mewujudkan situasi belajar mengajar yang efektif.
b. Penggunaan alat peraga merupakan bagian yang integral dari keseluruhan situasi mengajar, berarti alat peraga merupakan salah satu faktor pendukung yang harus dikembangkan oleh guru.
c. Alat peraga dalam pengajaraan penggunaannya terintegral dengan tujuan dan isi pelajaran. Fungsi ini mengandung pengertian bahwa penggunaan alat peraga harus melihat tujuan dan bahan pelajaran.
d. Penggunaan alat peraga dalam pembelajaran bukan semata-mata alat untuk menghibur siswa, dalam arti digunakan hanya sekedar melengkapi saja, melainkan merupakan alat yang sangat diperlukan dalam proses belajar mengajar.
e. Penggunaan alat peraga dalam proses belajar mengajar lebih diutamakan untuk mempercepat proses belajar mengajar dan membantu siswa dalam menangkap materi yang disampaikan oleh guru.
f. Penggunaan alat peraga dalam proses belajar mengajar diutamakan untuk meningkatkan kualitas kegiatan belajar mengajar. Dengan kata lain menggunakan alat peraga akan berdampak positif pada hasil belajar menjadi lebih tahan lama atau mudah diingat dan dimengerti.
Jean Piaget seorang ilmuwan dari Prancis yang melakukan penelitian tentang perkembangan kognitif individu sejak tahun 1920 sampai 1964 (Nandang Budiman 2006: 44). Berdasarkan hasil penelitiannya, Piaget membagi proses perkembangan fungsi-fungsi dan perilaku kognitif ke dalam empat tahapan utama yang secara kualitatif setiap tahapan memunculkan karakteristik yang berbeda-beda. Tahapan perkembangan kognitif tersebut adalah periode sensori motorik (0,0-2,0), periode praoperasional (0,2-7,0), periode operasional konkret (7,0-11 atau 12,0), dan periode operasional formal (11,0 atau 12,0-14 atau 15,0). Sementara tindakan dilaksanakan dua siklus. Siklus pertama yaitu:
1. Kegiatan 1
a. Rancangan materi Pengaruh Gaya terhadap Gerak Benda
b. Rancangan pelaksanaan
1) Guru menjelaskan sedikit tentang materi yang dipelajari, kemudian guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok.
2) Alat peraga yang digunakan berupa mobil-mobilan, kertas polos dan kertas yang sudah dikepal, papan luncur permukaan halus dan kasar dengan ukuran sesuai keperluan, tiang penyangga, kelereng, batu kerikil ukuran kecil, styrofoam berbentuk bulat ukuran sebesar kelereng, plastisin berbentuk segi empat ukuran kecil, dinamometer, penggaris dan handout petunjuk pelaksanaan percobaan. Jumlah masing-masing alat peraga menyesuaikan dengan keperluan.
3) Langkah kerjanya yaitu (a) Siswa disuruh menjatuhkan styrofoam sebesar kelereng dan kelereng secara bersamaan dari ketinggian yang sama. Kegiatan selanjutnya siswa disuruh membandingkan kecepatan jatuh kedua benda tersebut berdasarkan ringan dan berat benda. (b) Siswa disuruh menjatuhkan kertas polos yang rapi dan kertas yang sudah dikepal dalam ukuran yang sama dari ketinggian yang sama. Langkah berikutnya siswa disuruh membandingkan kecepatan jatuh kedua benda tersebut berdasarkan luas permukaannya. (c) Siswa disuruh mendorong kelereng dan batu kerikil secara bergantian dari bagian atas papan peluncur pada tiang penyangga berbentuk bidang miring. Setelah itu siswa disuruh mengukur berapa jauh jarak yang ditempuh kedua benda tersebut dengan menggunakan penggaris. Langkah selanjutnya siswa disuruh membandingkan benda apa yang memiliki jarak tempuh lebih jauh berdasarkan luas permukaanya. (d) Siswa disuruh mendorong kelereng dan plastisin yang berbentuk segi empat secara bergantian dari atas papan luncur. Setelah itu siswa disuruh mengukur berapa jauh jarak yang ditempuh kedua benda tersebut dengan menggunakan penggaris. Langkah selanjutnya siswa disuruh membandingkan benda apa yang memiliki jarak tempuh lebih jauh berdasarkan bentuk benda. (e) Siswa disuruh mendorong mobil-mobilan dari bagian atas papan luncur yang memiliki permukaan rata. Langkah selanjutnya siswa disuruh mendorong mobil-mobilan dari bagian atas papan luncur yang memiliki permukaan kasar. Siswa kemudian disuruh mengukur berapa jauh jarak yang ditempuh oleh mobil-mobilan dengan mengunakan papan luncur permukaan rata dan papan luncur permukaan kasar. Selanjutnya siswa disuruh membandingkan jauh jarak yang ditempuh oleh mobil-mobilan yang menggunakan papan luncur permukaan rata dan yang menggunakan papan luncur permukaan kasar. Kegiatan akhir dari pelaksanaan ini, siswa disuruh mengumpulkan laporan hasil kerja kelompok di dalam panduan pelaksanaan percobaan yang sudah diberikan.
4) Selama siswa melakukan peragaan dan pengamatan, guru melakukan arahan dan bimbingan secara merata kepada setiap siswa.
c. Observasi. Peneliti mengamati proses kegiatan yang dilakukan siswa, kemudian mencatat
hasil pengamatan pada lembar atau format pengamatan yang sudah disiapkan.
2. Kegiatan 2
a. Rancangan materi Pengaruh Gaya terhadap Gerak Benda
b. Rancangan pelaksanaan
1) Guru menjelaskan sedikit tentang materi yang sudah dipelajari pada pertemuan pertama, kemudian guru membagikan alat peraga kepada setiap kelompok yang sudah dibentuk pada pertemuan pertama.
2) Alat peraga yang digunakan berupa mobil-mobilan, meja, kelereng, balok kayu ukuran kecil sesuai dengan keperluan, tali ukuran kecil panjang ±30 cm, penggaris, bola, ketapel, tiang penyangga, papan luncur permukaan rata, dan handout petunjuk pelaksanaan percobaan. Jumlah masing-masing alat peraga menyesuaikan dengan keperluan.
3) Langkah kerjanya yaitu (a) Siswa terlebih dahulu disuruh memasang tiang penyangga dan papan luncur yang membentuk sudut miring. Setelah tiang penyangga dan papan luncur siap untuk digunakan, kemudian siswa disuruh meletakan mobil-mobilan di bagian atas papan luncur kemudian dilepaskan. Siswa selanjutnya disuruh mengukur berapa jauh jarak yang ditempuh oleh mobil-mobilan tersebut. Siswa disuruh meletakan mobil-mobilan di bagian atas papan luncur, kemudian mobil-mobilan didorong ke arah bawah papan luncur yang berbentuk sudut miring. Kegiatan selanjutnya siswa disuruh menghitung dengan mengunakan penggaris berapa jauh jarak yang ditempuh oleh mobil-mobilan yang didorong. Siswa kemudian disuruh menyimpulkan bahwa gerak benda dipengaruhi oleh gaya dorong. (b) Siswa disuruh meletakan mobil-mobilan di atas meja, kemudian siswa disuruh memperhatikan apakah kedudukan mobil-mobilan tersebut berubah atau tidak. Kegiatan selanjutnya siswa disuruh menarik mobil-mobilan menggunakan tali ke arah depan, kemudian siswa disuruh mengamati kedudukan mobil-mobilan yang ditarik tadi apakah kedudukannya berubah atau tidak. Langkah terakhir siswa disuruh menyimpulkan bahwa gerak benda dipengaruhi oleh gaya tarik. (c) Siswa disuruh meletakan balok kayu ukuran kecil di atas meja, kemudian siswa disuruh mendorong kelereng dari arah berlawanan mengenai balok kayu. Selanjutnya siswa disuruh mengamti apakah arah pergerakan kelereng yang membentur balok kayu berubah atau tidak. Kegiatan terakhir adalah siswa disuruh menyimpulkan bahwa benturan antara kelereng dan balok kayu menyebabkan perubahan arah pergerakan kelereng.
4) Selama siswa melakukan peragaan dan pengamatan, guru melakukan arahan dan bimbingan secara merata kepada setiap siswa.
c. Observasi. Peneliti mengamati proses kegiatan yang dilakukan oleh siswa dan guru, kemudian mencatat hasil pengamatan pada lembar atau format pengamatan yang sudah disiapkan.
3. Post tes
a. Rancangan materi Pengaruh Gaya terhadap Gerak Benda.
1) Rancangan Pelaksanaan
a) Guru bersama peneliti membuat soal latihan tentang materi yang telah dipelajari.
b) Semua siswa diminta untuk mengerjakan soal latihan yang sudah dipelajari.
c) Selama siswa mengerjakan soal laihan, guru melakukan pengawasan secara merata kepada setiap siswa.
b. Observasi, peneliti mengamati dan mencatat kegiatan yang dilakukan siswa dan guru.
c. Refleksi. Setelah hasil pengamatan dianalisis, kemudian dilaksanakan pencatatan terhadap hal-hal yang diaggap perlu diperbaiki dan dikembangkan. Kegiatan ini dilakukan bertujuan untuk mempermudah melaksanakan langkah tindakan pada siklus berikutnya.
4. Rancangan tindakan pada siklus dua yaitu:
a. Kegiatan 1
1) Rancangan materi Pengaruh Gaya terhadap Bentuk Benda
2) Rancangan pelaksanaan
a) Guru menjelaskan tentang materi yang dipelajari, kemudian siswa melaksanakan praktik percobaan sesuai dengan kelompok yang sudah dibentuk pada siklus pertama.
b) Alat peraga yang digunakan berupa plastisin, kertas polos, gelang karet, kerupuk dan fotocopyan petunjuk percobaan. Jumlah masing-masing alat peraga menyesuaikan dengan keperluan.
c) Langkah kerjanya yaitu (a) Pertama siswa disuruh memperhatikan bagaimanakan bentuk gelang karet pertama-tama. Langkah berikutnya siswa disuruh memainkan gelang karet dengan menggunakan jari-jari tangan sehingga membentuk tiga bentuk benda sesuai dengan keinginan mereka. Langkah terakhir dari kegiatan ini siswa disuruh menuliskan nama bentuk benda yang sudah siswa buat dari bahan karet. (b) Siswa disuruh memperhatikan bentuk plastisin pertama-tama. Langkah berikutnya siswa disuruh membuat lima bentuk benda yang terbuat dari bahan plastisin sesuai dengan keinginan mereka. Langkah terakhir dari kegiatan ini siswa disuruh menuliskan nama bentuk benda yang sudah mereka buat dari bahan plastisin. (c) Siswa disuruh memperhatikan bentuk kerupuk pertama-tama. Langkah berikutnya siswa disuruh meremas kerupuk hingga bentuknya berubah. Langkah terakhir dari kegiatan ini siswa disuruh menuliskan bagaimanakah bentuk kerupuk yang sudah diremas. (d) Siswa disuruh memperhatikan bentuk kertas pertama-tama. Berikutnya siswa disuruh membuat lima bentuk benda yang terbuat dari bahan kertas. Langkah terakhir dari kegiatan ini siswa disuruh menuliskan nama bentuk benda yang sudah mereka buat dari bahan kertas. Kegiatan terakhir dari tindakan 1 siklus dua adalah siswa disuruh menuliskan kesimpulan dari hasil percobaan yang sudah dilaksanakan.
d) Selama siswa melaksanakan praktik peragaan, guru melakukan arahan dan bimbingan secara merata kepada semua siswa.
3) Observasi. Peneliti mengamati proses kegiatan yang dilakukan siswa dan guru, kemudian mencatat hasil pengamatan pada lembar atau format pengamatan yang sudah disiapkan.
b. Kegiatan 2
1) Rancangan materi Pengaruh Gaya terhadap Bentuk Benda
2) Rancangan pelaksanaan
a) Guru menjelaskan sedikit tentang materi yang sudah dipelajari pada pertemuan pertama, kemudian guru membagikan alat peraga kepada setiap kelompok yang sudah dibentuk pada pertemuan pertama.
b) Alat peraga yang digunakan berupa kawat kecil berbentuk spiral (pegas) ukuran ± 3 cm, balon karet, tali kecil panjang ± 30 cm, dan fotocopyan petunjuk percobaan. Jumlah masing-masing alat peraga menyesuaikan dengan keperluan.
c) Langkah kerjanya yaitu (a) Siswa disuruh memperhatikan bentuk balon karet pertama-tama. Langkah berikutnya siswa disuruh meniup balon karet secukupnya. Kegiatan terakhir siswa disuruh menulis nama bentuk balon setelah ditiup. (b) Siswa disuruh memperhatikan bentuk kawat spiral pertama-tama. Berikutnya siswa disuruh menekan dan melepaskan secara perlahan-lahan kedua ujung kawat berbentuk spiral dengan menggunakan jari tangan. Pada saat siswa menekan dan melepasakan kedua ujung kawat spiral siswa disuruh memperhatikan apa yang terjadi pada kawat tersebut. Siswa disuruh memasang tali pada kedua ujung kawat, kemudian tali yang sudah terpasang ditarik sekuat-kuatnya dari arah yang berlawanan. Langkah terakhir dari kegiatan ini siswa disuruh mencatat apa yang terjadi pada kawat spiral ketika ditarik dengan kuat pada kedua ujungnya. (c) Siswa disuruh mengisi tabel yang sudah tercantum pada petunjuk pelaksanaan percobaan.
c. Observasi. Peneliti mengamati proses kegiatan yang dilakukan siswa dan guru, kemudian mencatat hasil pengamatan pada lembar atau format pengamatan yang sudah disiapkan.
5. Post tes
a. Rancangan materi Pengaruh Gaya terhadap Bentuk Benda.
b. Rancangan Pelaksanaan
1) Guru bersama peneliti membuat soal latihan tentang materi yang telah dipelajari.
2) Semua siswa diminta untuk mengerjakan soal latihan yang sudah dipelajari.
3) Selama siswa mengerjakan soal laihan, guru melakukan pengawasan secara merata kepada setiap siswa.
c. Observasi, peneliti mengamati dan mencatat kegiatan yang dilakukan siswa dan guru.
d. Refleksi. Setelah hasil pengamatan dianalisis, kemudian dilaksanakan pencatatan terhadap hal-hal yang diaggap perlu diperbaiki dan dikembangkan. Kegiatan ini dilakukan bertujuan untuk memperbaiki kekurangan dan kelemahan yang terjadi pada siklus dua.
Metode pengumpulan data adalah cara yang dipergunakan oleh peneliti bersama guru kelas selaku tim untuk mengumpulkan data. Data dalam penelitian ini dikumpulkan oleh peneliti bersama dengan guru mata pelajaran IPA kelas IV SD Negeri Caturtunggal 1. Data bersumber dari dokumen sekolah berupa nilai rata-rata kelas ujian semester 1 pada mata pelajaran IPA. Data juga diperoleh dari interaksi peneliti bersama guru dan interaksi guru dengan siswa. Interaksi guru dengan siswa diperoleh mulai dari pelaksanaan tindakan pertama sampai dengan tindakan terakhir pada pembelajaran IPA siswa kelas IV SD Negeri Caturtunggal 1 dengan pengoptimalan penggunaan media alat peraga. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes dan observasi. Tes merupakan salah satu metode pengumpulan informasi dan data. Tes dalam penelitian ini adalah tes formatif yang digunakan untuk mengukur prestasi belajar IPA. Tes yang digunakan oleh peneliti untuk mengukur prestasi belajar IPA siswa kelas IV berupa soal tertulis pilihan ganda dan uraian. Materi tes yang digunakan oleh peneliti telah disesuaikan dengan materi pelajaran siswa kelas IV pada mata pelajaran IPA di Sekolah Dasar semester dua tahun ajaran 2009/2010. Observasi. Suharsimi Arikunto (2006: 15) mengemukakan bahwa observasi atau disebut dengan pengamatan mengikuti kegiatan pemusatan perhatian pada suatu objek penelitian. Metode observasi ini lebih cendrung untuk melihat dengan mengamati tingkah laku siswa secara langsung, maka alat yang paling utama adalah panca indera, terutama indera penglihatan. Observasi yang digunakan oleh peneliti dalam penelitian ini adalah observasi non partisipatif (nonparticipatory observation) yaitu pengamat tidak ikut serta dalam kegiatan, pengamat hanya berperan sebagai orang yang mengamati kegiatan. Guru mata pelajaran IPA kelas IV SD Negeri Caturtunggal 1 bersama peneliti menggunakan panduan observasi untuk mengamati tindak belajar siswa dalam mengikuti pembelajaran IPA dengan media alat peraga.
Dalam penelitian ini, kegiatan analisis data dimulai sejak awal sampai akhir tindakan. Data yang dianalisis pada awal sampai akhir tindakan yaitu data yang diobservasi, sementara data prestasi belajar IPA siswa kelas IV dianalisis pada akhir setiap siklus melalui tes. Data prestasi belajar IPA siswa kelas IV diperoleh dari perhitungan nilai hasil tes pada akhir tindakan setiap siklus. Hasil tes siswa tersebut kemudian dianalisis dan dibandingkan dengan data awal berupa hasi ujian akhir semester satu terhadap data hasil tes belajar IPA siswa kelas IV SD Negeri Caturtunggal 1 melalui pengoptimalan media alat peraga.
Penelitian ini dilaksanakan dua siklus. Siklus pertama terdiri dari dua tindakan dan siklus kedua terdiri dari dua tindakan. Siklus pertama tindakan pertama dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 23 Januari 2010, dan tindakan kedua dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 27 Januari 2010. Pelaksanaan kegiatan siklus satu yang dimulai dari tindakan pertama sampai tindakan kedua dan post tes, sudah ada perbaikan dalam bentuk peningkatan nilai rata-rata kelas dari 56,63 naik menjadi 60,77. Akan tetapi pada proses pelaksanaannya mengalami berbagai hambatan. Indikasi hambatan yang terjadi diperoleh peneliti melalui observasi dari tindakan satu sampai tindakan dua siklus pertama. Hambatan yang terjadi pada siklus satu menjadi bahan evaluasi dan refleksi peneliti bersama guru untuk melaksanakan siklus berikutnya. Upaya perbaikan yang dilakukan oleh peneliti bersama guru mengalami keberhasilan. Keberhasilan yang dimaksud adalah adanya peningkatan nilai rata-rata kelas pada siklus dua bila dibandingkan dengan siklus satu. Nilai rata-rata kelas pada siklus pertama 60,77 pada siklus dua meningkat menjadi 70,97.
Pada siklus dua beberapa hambatan tersebut mulai diperbaiki melalui hasil evaluasi dan refleksi peneliti bersama guru. Perbaikan yang dilakukan bertujuan agar apa yang menjadi hambatan dan kekurangan pada siklus pertama dapat teratasi pada siklus dua. Beberapa hambatan yang diperbaiki oleh peneliti bersama guru pada siklus dua yaitu meningkatkan pengawasan terhadap siswa yang dianggap sering menimbulkan kekacauan, mondar-mandir di dalam kelas, menganggu kegiatan pembelajaran, dan kepada siwa yang kurang bahkan tidak memperhatikan penjelasan guru. Contoh lain dari refleksi yang dilakukan adalah guru menyampaikan materi dengan ritme pelan, dalam menyampaikan materi selalu melakukan pengulangan, dan meningkatkan mobilitas gerak di dalam kelas. Pada saat praktik percobaan dilaksanakan guru meningkatkan pengarahan dan pengawasan kepada setiap siswa. Praktik percobaan dilakukan secara perlahan mulai dari tahap pertama sampai dengan tahap terakhir sesuai dengan petunjuk yang sudah disusun sebelumnya.
Pandangan Piaget dalam C. Asri Budiningsih (2005: 38) yang mengatakan bahwa anak usia Sekolah Dasar (7-12 tahun) kemampuan berpikir dan bernalar masih berada pada tahap operasional konkret, merupakan sebuah pandangan yang relevan dengan penerapan alat peraga dalam pembelajaran. Melalui penggunaan alat peraga siswa bisa memahami materi lebih jelas dan dalam, karena siswa sendiri ikut dilibatkan langsung berupa mengamati dan praktik percobaan.
Keterlibatan siswa secara langsung dalam menggunakan media alat peraga dilakukan melalui pembagian siswa menjadi beberapa kelompok. Pembagian yang ideal adalah satu kelompok terdiri dari dua siswa. Dengan jumlah satu kelompok terdiri dari dua siswa, maka siswa dapat secara bergantian untuk mempraktikan langsung media alat peraga yang digunakan. Cara yang digunakan untuk praktik berdasarkan petunjuk percobaan yang sudah disusun. Keterlibatan siswa secara langsung dalam praktik media alat peraga dapat memberikan keberhasilan dalam pembelajaran.
Pengoptimalan penggunaan media alat peraga dapat meningkatkan prestasi belajar IPA siswa kelas IV SD Negeri Caturtunggal 1, Kec. Depok, Kab. Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta berupa peningkatan nilai rata-rata kelas. Nilai rata-rata kelas mata pelajaran IPA siswa kelas IV pada kondisi awal sebelum diberikan perlakuan adalah 56,63 meningkat menjadi 60,77 pada siklus pertama. Berdasarkan upaya perbaikan yang dilakukan oleh peneliti bersama dengan guru melalui evaluasi dan refleksi maka pada siklus kedua nilai rata-rata kelas mengalami kenaikan lagi yaitu 70,97.
Peneliti menyarankan kepada guru mata pelajaran IPA kelas IV sebaiknya mengoptimalkan penggunaan media alat peraga yang sudah ada di sekolah. Guru mata pelajaran IPA kelas IV sebaiknya menggunakan alat peraga IPA dalam pembelajaran secara optimal, dimana siswa diusahakan untuk dilibatkan melakukan praktik langsung bukan hanya guru yang menggunakan media melainkan siswa juga terlibat langsung. Guru mata pelajaran IPA kelas IV sebaiknya ketika melaksanakan pembelajaran diharapkan melakukan pengawasan dan bimbingan yang merata kepada setiap siswa. Selain itu khusus untuk siswa yang dianggap berpotensi menimbulkan ketidakkondisifan diharapkan mendapat perhatian khusus. Kepada Kepala Sekolah SD Negeri Caturtunggal 1, sekolah hendaknya memfasilitasi guru dalam pelaksanaan pembelajaran IPA dengan mengoptimalkan media alat peraga yang sudah tersedia di sekolah. Kepala Sekolah hendaknya bertindak sebagai perentara dalam pengadaan fasilitas media alat peraga IPA secara memadai.
Senin, 05 April 2010
KTSP ANTARA KUALITAS DAN REALITA PENDIDIKAN INDONESIA
Oleh: Damaskus Beny
Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Tujuan tertentu ini meliputi tujuan pendidikan nasional serta kesesuaian dengan kekhasan, kondisi dan potensi daerah, satuan pendidikan dan peserta didik. Oleh sebab itu kurikulum disusun oleh satuan pendidikan untuk memungkinkan penyesuaian program pendidikan dengan kebutuhan dan potensi yang ada di daerah. Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang beragam mengacu pada standar nasional pendidikan untuk menjamin pencapaian tujuan pendidikan nasional.Standar nasional pendidikan terdiri atas standar isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan dan penilaian pendidikan. Dua dari kedelapan standar nasional pendidikan tersebut, yaitu Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) merupakan acuan utama bagi satuan pendidikan dalam mengembangkan kurikulum. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 (UU 20/2003) tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2005 (PP 19/2005) tentang Standar Nasional Pendidikan mengamanatkan kurikulum pada KTSP jenjang pendidikan dasar dan menengah disusun oleh satuan pendidikan dengan mengacu kepada SI dan SKL serta berpedoman pada panduan yang disusun oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Selain dari itu, penyusunan KTSP juga harus mengikuti ketentuan lain yang menyangkut kurikulum dalam UU 20/2003 dan PP 19/2005. Panduan yang disusun BSNP terdiri atas dua bagian. Pertama, Panduan Umum yang memuat ketentuan umum pengembangan kurikulum yang dapat diterapkan pada satuan pendidikan dengan mengacu pada Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar yang terdapat dalam SI dan SKL.Termasuk dalam ketentuan umum adalah penjabaran amanat dalam UU 20/2003 dan ketentuan PP 19/2005 serta prinsip dan langkah yang harus diacu dalam pengembangan KTSP. Kedua, model KTSP sebagai salah satu contoh hasil akhir pengembangan KTSP dengan mengacu pada SI dan SKL dengan berpedoman pada Panduan Umum yang dikembangkan BSNP. Sebagai model KTSP, tentu tidak dapat mengakomodasi kebutuhan seluruh daerah di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan hendaknya digunakan sebagai referensi.
Panduan pengembangan kurikulum disusun antara lain agar dapat memberi kesempatan peserta didik untuk :belajar untuk beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,belajar untuk memahami dan menghayati,belajar untuk mampu melaksanakan dan berbuat secara efektif,belajar untuk hidup bersama dan berguna untuk orang lain, danbelajar untuk membangun dan menemukan jati diri melalui proses belajar yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan.A. LandasanUndang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.Ketentuan dalam UU 20/2003 yang mengatur KTSP, adalah Pasal 1 ayat (19); Pasal 18 ayat (1), (2), (3), (4); Pasal 32 ayat (1), (2), (3); Pasal 35 ayat (2); Pasal 36 ayat (1), (2), (3), (4); Pasal 37 ayat (1), (2), (3); Pasal 38 ayat (1), (2).Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.Ketentuan di dalam PP 19/2005 yang mengatur KTSP, adalah Pasal 1 ayat (5), (13), (14), (15); Pasal 5 ayat (1), (2); Pasal 6 ayat (6); Pasal 7 ayat (1), (2), (3), (4), (5), (6), (7), (8); Pasal 8 ayat (1), (2), (3); Pasal 10 ayat (1), (2), (3); Pasal 11 ayat (1), (2), (3), (4); Pasal 13 ayat (1), (2), (3), (4); Pasal 14 ayat (1), (2), (3); Pasal 16 ayat (1), (2), (3), (4), (5); Pasal 17 ayat (1), (2); Pasal 18 ayat (1), (2), (3); Pasal 20.Standar IsiSI mencakup lingkup materi dan tingkat kompetensi untuk mencapai kompetensi lulusan pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Termasuk dalam SI adalah : kerangka dasar dan struktur kurikulum, Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) setiap mata pelajaran pada setiap semester dari setiap jenis dan jenjang pendidikan dasar dan menengah. SI ditetapkan dengan Kepmendiknas No. 22 Tahun 2006.Standar Kompetensi LulusanSKL merupakan kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan dan keterampilan sebagaimana yang ditetapkan dengan Kepmendiknas No. 23 Tahun 2006.B. Tujuan Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
Tujuan Panduan Penyusunan KTSP ini untuk menjadi acuan bagi satuan pendidikan SD/MI/SDLB, SMP/MTs/SMPLB, SMA/MA/SMALB, dan SMK/MAK dalam penyusunan dan pengembangan kurikulum yang akan dilaksanakan pada tingkat satuan pendidikan yang bersangkutan.
C. Pengertian
Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. KTSP terdiri dari tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan, struktur dan muatan kurikulum tingkat satuan pendidikan, kalender pendidikan, dan silabus. Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi , kompetensi dasar, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator, penilaian, alokasi waktu, dan sumber/bahan/alat belajar. Silabus merupakan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian.
D. Prinsip-Prinsip Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
KTSP dikembangkan sesuai dengan relevansinya oleh setiap kelompok atau satuan pendidikan di bawah koordinasi dan supervisi dinas pendidikan atau kantor Departemen Agama Kabupaten/Kota untuk pendidikan dasar dan provinsi untuk pendidikan menengah. Pengembangan KTSP mengacu pada SI dan SKL dan berpedoman pada panduan penyusunan kurikulum yang disusun oleh BSNP, serta memperhatikan pertimbangan komite sekolah/madrasah. Penyusunan KTSP untuk pendidikan khusus dikoordinasi dan disupervisi oleh dinas pendidikan provinsi, dan berpedoman pada SI dan SKL serta panduan penyusunan kurikulum yang disusun oleh BSNP .
KTSP dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip sebagai berikut:Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya.Beragam dan terpaduTanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seniRelevan dengan kebutuhan kehidupanMenyeluruh dan berkesinambunganBelajar sepanjang hayatSeimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah
Panduan pengembangan kurikulum disusun antara lain agar dapat memberi kesempatan peserta didik untuk :belajar untuk beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,belajar untuk memahami dan menghayati,belajar untuk mampu melaksanakan dan berbuat secara efektif,belajar untuk hidup bersama dan berguna untuk orang lain, danbelajar untuk membangun dan menemukan jati diri melalui proses belajar yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan.A. LandasanUndang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.Ketentuan dalam UU 20/2003 yang mengatur KTSP, adalah Pasal 1 ayat (19); Pasal 18 ayat (1), (2), (3), (4); Pasal 32 ayat (1), (2), (3); Pasal 35 ayat (2); Pasal 36 ayat (1), (2), (3), (4); Pasal 37 ayat (1), (2), (3); Pasal 38 ayat (1), (2).Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.Ketentuan di dalam PP 19/2005 yang mengatur KTSP, adalah Pasal 1 ayat (5), (13), (14), (15); Pasal 5 ayat (1), (2); Pasal 6 ayat (6); Pasal 7 ayat (1), (2), (3), (4), (5), (6), (7), (8); Pasal 8 ayat (1), (2), (3); Pasal 10 ayat (1), (2), (3); Pasal 11 ayat (1), (2), (3), (4); Pasal 13 ayat (1), (2), (3), (4); Pasal 14 ayat (1), (2), (3); Pasal 16 ayat (1), (2), (3), (4), (5); Pasal 17 ayat (1), (2); Pasal 18 ayat (1), (2), (3); Pasal 20.Standar IsiSI mencakup lingkup materi dan tingkat kompetensi untuk mencapai kompetensi lulusan pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Termasuk dalam SI adalah : kerangka dasar dan struktur kurikulum, Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) setiap mata pelajaran pada setiap semester dari setiap jenis dan jenjang pendidikan dasar dan menengah. SI ditetapkan dengan Kepmendiknas No. 22 Tahun 2006.Standar Kompetensi LulusanSKL merupakan kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan dan keterampilan sebagaimana yang ditetapkan dengan Kepmendiknas No. 23 Tahun 2006.B. Tujuan Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
Tujuan Panduan Penyusunan KTSP ini untuk menjadi acuan bagi satuan pendidikan SD/MI/SDLB, SMP/MTs/SMPLB, SMA/MA/SMALB, dan SMK/MAK dalam penyusunan dan pengembangan kurikulum yang akan dilaksanakan pada tingkat satuan pendidikan yang bersangkutan.
C. Pengertian
Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. KTSP terdiri dari tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan, struktur dan muatan kurikulum tingkat satuan pendidikan, kalender pendidikan, dan silabus. Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi , kompetensi dasar, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator, penilaian, alokasi waktu, dan sumber/bahan/alat belajar. Silabus merupakan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian.
D. Prinsip-Prinsip Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
KTSP dikembangkan sesuai dengan relevansinya oleh setiap kelompok atau satuan pendidikan di bawah koordinasi dan supervisi dinas pendidikan atau kantor Departemen Agama Kabupaten/Kota untuk pendidikan dasar dan provinsi untuk pendidikan menengah. Pengembangan KTSP mengacu pada SI dan SKL dan berpedoman pada panduan penyusunan kurikulum yang disusun oleh BSNP, serta memperhatikan pertimbangan komite sekolah/madrasah. Penyusunan KTSP untuk pendidikan khusus dikoordinasi dan disupervisi oleh dinas pendidikan provinsi, dan berpedoman pada SI dan SKL serta panduan penyusunan kurikulum yang disusun oleh BSNP .
KTSP dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip sebagai berikut:Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya.Beragam dan terpaduTanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seniRelevan dengan kebutuhan kehidupanMenyeluruh dan berkesinambunganBelajar sepanjang hayatSeimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah
Sabtu, 03 April 2010
Akhirnya "Dia" Menyadari..........,,,,????

Berdasarkan Pembicaraan Damaskus Beny dan Darwin
Beberapa bulan yang lalu tepatnya Maret 2009 saya berbincang-bincang dengan seorang teman saya di sebuah beranda rumah. Tepatnya di Asrama PBS Keuskupan Kab. Ketapang Kal-Bar yang berada di Sleman Yogyakarta. Kami berbicara begitu enaknya,,,,,saking nyambungnya saya hampir lupa untuk pulang ke Asrama. Kami memulai pembicaraan dengan topik keprihatianan kami terhadap dunia pendidikan indonesia secara umum dan khususnya untuk teman-teman yang berada di pedalaman Kal-Bar sekarang ini. Kebetulan saya dengan teman saya itu kuliah di satu universitas dan satu Prodi S-1 PGSD UNY. Dilihat dari umur saya dan dia memang mempunyai perbedaan dia lebih tua daripada saya, akantetapi saya lebih tua jika ditinjau strata kami di kampus. Saya masuk kuliah di UNY tahun 2006, sedangkan dia baru masuk tahun 2007. Saya sudah lama mengetahui dari apa yang diceritaknya kepada saya bahwa dia sebenarnya sudah lama lulus SMA tepatnya tahun 2000, sementara saya lulusan SMA tahun 2005.
Selanjutnya saya berbicara dengan dia,,,,bahwa umur bukan merupakan suatu kendala bagi seseorang untuk mengenyam pendidikan selgi yang bersangkutan masih mempunyai kemauan dan bisa melaksanakannya., terus dia menjawab "ya" lagian saya juga belum terlalu tua katanya membalas pembicaraan saya. Secara eksplisit saya heran kepada teman saya itu mengapa dia lulusan SMA tahun 2000 dan baru masuk kuliah tahun 2007.....??? terus saya mempertanyakan fenomena tersebut kepada dia. Teman saya menjawab "Panjang Ceritanya" katanya memulai pembicaraan. Setelah selesai SMA tahun 2000, saya pulang ke kampung halaman saya jauh nun di pedalaman Kal-Bar. Kebetulan saya SMA di kota kabupatennya, ketika saya lulus SMA saya sebenarnya mempunyai niat atau keinginan untuk melanjutkan studi saya ke Perguruan Tinggi. Akantetapi terkadang apa yang kita cita-citakan tidak selamanya berjalan mulus seperti yang ita harapkan. Kendala yang paling utama mengapa saya tidak lansung melanjutkan studi saya karena alasan finansial keluarga saya. Pada akhirnya saya memutuskan untuk mebuang sejauh mungkin harapan saya untuk berkuliah. Selanjutnya saya memutuskan untuk bekerja pada sebua PT yang bergerak di bidang perkayuan di Kab. Ketapang Kal-Bar,,,,,saya bekerja begitu lama d sana. Saya bekerja sebagai Kernet kendaraan berat bernama Kepiting penjepit kayu mentah, ya.....bekerja di lapangan di dalam hutan begitu......pada dasarnya saya menikmati pekerjaan saya itu, walaupun terkadang saya merasa bosan dan jenuh juga. Saya tau jika perusahaan dimana tempat saya bekerja itu tutup maka saya akan hilang pekerjaan,,,,,,akantetapi saya tidak punya pilihan lain selain tetap bekerja di sini. Hari berganti hari, minggu berganti munggu, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun, akhirnya pada tahun 2006 akhir saya menyadari bahwa bagaimana kalau saya cari peluang untuk memenuhi asa saya berkuliah...??? kebetulan saya sudah punya sedikit tabungan yang saya peroleh selama bertahun-tahun bekerja. Selanjutnya saya menghubungi Keuskupan Kab. Ketapang, karena saya tau Keuskupan mempunyai Program Beasiswa yang akan berkuliah di kota Yogyakarta. Melalui berbagai upaya dan usaha akhirnya saya diterima sebagai salah seorang yang akan menerima beasiswa tersebut. Singkat cerita akhinrnya saya memutuskan untuk masuk kuliah di S1 PGSD UNY pada tahun ajaran baru 2007, "Begitu teman saya Bercerita kepada saya" selanjutnya saya mengatakan kepda teman saya itu bahwa "Akhirnya kamu menyadari Arti Penting dari Sebuah Pendidikan bagi Kehidupan" begitu kata saya menutup pembicaraan kami, lalu sayapun mohon pamit untuk pulang maklum udah agak larut malam......
BELUM DEWASA DALAM BERDEMOKRASI
Oleh : Petrus Darwin
Mahasiswa PGSD, Fakultas Ilmu Pendidikan,
Universitas Negeri Yogyakarta
Asal Ketapang, Kalimantan Barat..
Pelaksanaan pemilu legislatif pada tanggal 9 April 2009 yang baru kita laksanakan beberapa minggu yang lalu, selain menguras dana negara yang begitu besar, pelaksanaan pemilu legislatif kali ini juga menyebabkan jatuh korban, terutama yang dialami oleh para caleg, mulai dari depresi, setres sampai ada caleg yang nekad bunuh diri.
Tidak salah lagi apa yang telah diperkirakan banyak orang sebelumnya, bahwa pelaksanaan pemilu legislatif yang akan digelar pada tanggal 9 April 2009 itu akan menimbulkan banyak permasalahan, hal tersebut terbukti hingga hari ini banyak laporan yang masuk pada Bawaslu terkait pelanggaran atau permasalahan itu. namun permasalahan yang sangat memprihatinkan yang jarang atau boleh dikatakan belum pernah terjadi/di jumpai pada pelaksanaan pemilu sebelumnya adalah, adanya fenomena caleg setres dan bunuh diri gara-gara tidak terpilih menjadi anggota legislatif. Pertanyaan bagi kita mengapa para caleg nekad berbuat demikian? Menurut penulis ada beberapa faktor yang melatarbelakangi hal tersebut:
Pertama, pelaksanaan sistem demokrasi di negara kita relatif baru atau muda, yaitu baru dimulai sejak bergulirnya era repormasi, walaupun pada kenyataannya saat ini negara kita dikenal sebagai negara demokrasi terbesar ke-3 di dunia versi Amerika Serikat, namun secara mental bangsa kita belum dewasa dalam berdemokrasi, terutama para politisi kita. disinilah kita perlu belajar banyak dari Amerika Serikat yang merupakan negara demokrasi nomor satu di dunia, kita ambil contoh saja, belum lama ini di Amerika Serikat baru saja melaksanakan pemilu presiden, antara Barack Obama dari partai demokrat dan Jhon Machain dari partai republik, yang mana dalam pertarungan tersebut berhasil dimenangkan oleh Barack Obama mengalahkan rival beratnya Jhon Machain. Selama kampanye, tidak jarang di temui berbagai kritikan atau pernyataan keras yang dilontarkan oleh kedua belah pihak, kedua kubu saling beradu argumen di setiap forum, mereka saling menyalahkan dan tuding menuding untuk menjatuhkan lawan. Namun apa yang terjadi, setelah pemilihan dilangsungkan dan penghitungan suara selesai dan diketahui pemenangnya adalah barack obama, Jhon Machain langsung memberikan ucapan selamat kemenangan dan mendukung sepenuhnya kepada Barack Obama sebagai presiden terpilih Amerika Serikat, Jhon Machain menerima kekalahannya dengan lapang dada dan berjiwa besar. Sikap seperti inilah yang belum di miliki oleh politisi kita di negeri ini, para politisi/caleg kita hanya siap menang tetapi tidak siap kalah, sehingga ketika mereka tidak terpilih dalam pemilu legislatif seperti saat ini, mental mereka tidak siap menerima kenyataan, akibatnya mereka mengalami guncangan dan gangguan jiwa.
Kedua, berubahnya sistem pemilu, seperti kita ketahui bersama, bahwa sistem pemilu legislatif kali ini berbeda dengan sistem pemilu sebelumnya. Jika pada sistem pemilu sebelumnya kemenangan seorang caleg di tentukan oleh nomor urut, dalam arti, siapa yang memperoleh nomor urut paling atas besar kemungkinan akan terpilih sebagai anggota legislatif, walaupun pada kenyataannya seorang calag tersebut tidak memperoleh suara terbanyak. berbeda dengan pelaksanaan pemilu legislatif yang kita laksanakan baru-baru ini, pada pemilu kali ini, seperti yang telah diputuskan oleh mahkamah konstitusi (MK), bahwa kemenangan seorang caleg ditentukan oleh suara terbanyak. Dengan sistem seperti ini, seorang caleg dituntut untuk bekerja keras dengan segala daya, tenaga, pikiran dan dana agar dirinya bisa terpilih. terjadi persaingan yang cukup ketat antarcaleg, sehingga demi mewujudkan ambisinya para caleg rela berkorban habis-habisan dengan mengeluarkan banyak uang untuk meraih simpati dan suara dari para pemilih. Akibatnya ketika perjuangan mereka yang begitu besar itu hanya menghasilkan suara pemilih yang minim, para caleg merasa harga diri dan martabatnya tidak dihargai sebesar pengorbanan yang telah mereka keluarkan.
Ketiga, banyaknya orang yang mendaftar jadi caleg, yang merupakan konsekuensi dari banyaknya partai yang ikut dalam pemilu. Padahal jumlah kursi yang tersedia di lembaga legislatif tidak sebanding dengan jumlah orang yang mendaftar jadi caleg. Hal ini disebabkan karena adanya persepsi bahwa dengan menjadi anggota legislatif dapat memperbaiki nasib hidup atau meningkatkan taraf hidup seseorang, lembaga legislatif di jadikan tempat mencari nafkah. Sehingga untuk mewujudkan impian tersebut, pada saat kampanye selain mengeluarkan harta benda dan uang milik pribadi, para caleg juga nekad untuk meminjam uang pada keluarga atau pun orang lain. sehingga ketika mereka kalah dalam kompetisi, beban hidup mereka semakin bertambah berat, karena selain harta benda dan uang milik pribadi sudah habis, mereka juga mempunyai tanggungjawab untuk mengembalikan dana yang sudah dipinjam pada orang lain pada saat kampanye.
Semoga kejadian seperti ini dapat menjadi pelajaran berharga bagi kita, kedepannya diharapkan agar para parpol untuk lebih selektif dalam menentukan calegnya, yaitu dengan mempertimbangkan kesehatan fisik dan mental, agar perisriwa serupa tidak terulang lagi.
Universitas Negeri Yogyakarta
Asal Ketapang, Kalimantan Barat..
Pelaksanaan pemilu legislatif pada tanggal 9 April 2009 yang baru kita laksanakan beberapa minggu yang lalu, selain menguras dana negara yang begitu besar, pelaksanaan pemilu legislatif kali ini juga menyebabkan jatuh korban, terutama yang dialami oleh para caleg, mulai dari depresi, setres sampai ada caleg yang nekad bunuh diri.
Tidak salah lagi apa yang telah diperkirakan banyak orang sebelumnya, bahwa pelaksanaan pemilu legislatif yang akan digelar pada tanggal 9 April 2009 itu akan menimbulkan banyak permasalahan, hal tersebut terbukti hingga hari ini banyak laporan yang masuk pada Bawaslu terkait pelanggaran atau permasalahan itu. namun permasalahan yang sangat memprihatinkan yang jarang atau boleh dikatakan belum pernah terjadi/di jumpai pada pelaksanaan pemilu sebelumnya adalah, adanya fenomena caleg setres dan bunuh diri gara-gara tidak terpilih menjadi anggota legislatif. Pertanyaan bagi kita mengapa para caleg nekad berbuat demikian? Menurut penulis ada beberapa faktor yang melatarbelakangi hal tersebut:
Pertama, pelaksanaan sistem demokrasi di negara kita relatif baru atau muda, yaitu baru dimulai sejak bergulirnya era repormasi, walaupun pada kenyataannya saat ini negara kita dikenal sebagai negara demokrasi terbesar ke-3 di dunia versi Amerika Serikat, namun secara mental bangsa kita belum dewasa dalam berdemokrasi, terutama para politisi kita. disinilah kita perlu belajar banyak dari Amerika Serikat yang merupakan negara demokrasi nomor satu di dunia, kita ambil contoh saja, belum lama ini di Amerika Serikat baru saja melaksanakan pemilu presiden, antara Barack Obama dari partai demokrat dan Jhon Machain dari partai republik, yang mana dalam pertarungan tersebut berhasil dimenangkan oleh Barack Obama mengalahkan rival beratnya Jhon Machain. Selama kampanye, tidak jarang di temui berbagai kritikan atau pernyataan keras yang dilontarkan oleh kedua belah pihak, kedua kubu saling beradu argumen di setiap forum, mereka saling menyalahkan dan tuding menuding untuk menjatuhkan lawan. Namun apa yang terjadi, setelah pemilihan dilangsungkan dan penghitungan suara selesai dan diketahui pemenangnya adalah barack obama, Jhon Machain langsung memberikan ucapan selamat kemenangan dan mendukung sepenuhnya kepada Barack Obama sebagai presiden terpilih Amerika Serikat, Jhon Machain menerima kekalahannya dengan lapang dada dan berjiwa besar. Sikap seperti inilah yang belum di miliki oleh politisi kita di negeri ini, para politisi/caleg kita hanya siap menang tetapi tidak siap kalah, sehingga ketika mereka tidak terpilih dalam pemilu legislatif seperti saat ini, mental mereka tidak siap menerima kenyataan, akibatnya mereka mengalami guncangan dan gangguan jiwa.
Kedua, berubahnya sistem pemilu, seperti kita ketahui bersama, bahwa sistem pemilu legislatif kali ini berbeda dengan sistem pemilu sebelumnya. Jika pada sistem pemilu sebelumnya kemenangan seorang caleg di tentukan oleh nomor urut, dalam arti, siapa yang memperoleh nomor urut paling atas besar kemungkinan akan terpilih sebagai anggota legislatif, walaupun pada kenyataannya seorang calag tersebut tidak memperoleh suara terbanyak. berbeda dengan pelaksanaan pemilu legislatif yang kita laksanakan baru-baru ini, pada pemilu kali ini, seperti yang telah diputuskan oleh mahkamah konstitusi (MK), bahwa kemenangan seorang caleg ditentukan oleh suara terbanyak. Dengan sistem seperti ini, seorang caleg dituntut untuk bekerja keras dengan segala daya, tenaga, pikiran dan dana agar dirinya bisa terpilih. terjadi persaingan yang cukup ketat antarcaleg, sehingga demi mewujudkan ambisinya para caleg rela berkorban habis-habisan dengan mengeluarkan banyak uang untuk meraih simpati dan suara dari para pemilih. Akibatnya ketika perjuangan mereka yang begitu besar itu hanya menghasilkan suara pemilih yang minim, para caleg merasa harga diri dan martabatnya tidak dihargai sebesar pengorbanan yang telah mereka keluarkan.
Ketiga, banyaknya orang yang mendaftar jadi caleg, yang merupakan konsekuensi dari banyaknya partai yang ikut dalam pemilu. Padahal jumlah kursi yang tersedia di lembaga legislatif tidak sebanding dengan jumlah orang yang mendaftar jadi caleg. Hal ini disebabkan karena adanya persepsi bahwa dengan menjadi anggota legislatif dapat memperbaiki nasib hidup atau meningkatkan taraf hidup seseorang, lembaga legislatif di jadikan tempat mencari nafkah. Sehingga untuk mewujudkan impian tersebut, pada saat kampanye selain mengeluarkan harta benda dan uang milik pribadi, para caleg juga nekad untuk meminjam uang pada keluarga atau pun orang lain. sehingga ketika mereka kalah dalam kompetisi, beban hidup mereka semakin bertambah berat, karena selain harta benda dan uang milik pribadi sudah habis, mereka juga mempunyai tanggungjawab untuk mengembalikan dana yang sudah dipinjam pada orang lain pada saat kampanye.
Semoga kejadian seperti ini dapat menjadi pelajaran berharga bagi kita, kedepannya diharapkan agar para parpol untuk lebih selektif dalam menentukan calegnya, yaitu dengan mempertimbangkan kesehatan fisik dan mental, agar perisriwa serupa tidak terulang lagi.
Dibalik Dua Sisi Sistem Komunikasi Dunia Maya
Oleh: Damaskus Beny
Berkomunikasi merupakan bagian dari kehidupan manusia yang tidak bisa dihilangkan. Sekian lama bahkan berabad-abad kehadiran manusia di dunia ini, komunikasi merupakan sebagai sarana yang sangat efektif dalam menjalani pelayaran kehidupan di duania ini untuk berhubungan secara aktif maupun non aktif antara manusia yang satu dengan manusia yang lain, antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lain, dan antara satu daerah dengan daerah yang lain. Secara garis besar ada dua cara manusia dalam berkomunikasi yaitu dengan menggunakan bahasa verbal dan dengan menggunakan bahasa non verbal atau lebih familiar dengan sebutan bahasa isyarat. Cara berkomnunikasi manusia kebanyakan dengan melakukan hubungan percakapan langsung antara yang satu dengan yang lainnya.
Di zamana sekarang cara berkomunikasi manusia sangat kompleks dan bervariatif. Seiring berkembangnya IPTEK yang merambah di setiap sendi kehidupan manusia, memunculkan banyaknya produk inovatif dalam cara berkomunikasi. Dari sekian produk inovatif cara berkomunikasi, cara berkomunikasi manusia dengan menggunakan perangkat lunak (sofware) merupakan cara yang sangat simple dan dapat dilakukan dalam waktu yang cepat juga bisa menembus dunia secara efektif.
Kehadiran perangkat-perangkat cara berkomunikasi ala modern seperti handphone, Via Email, YM, KL, Friendster, Facebook dan produk-produk cara beromunikasi lainya dewasa ini sudah menjadi semacam trend dan gengsi atau bahkan semacam life style bagi segelintir orang. Di satu sisi alat-alat tersebut memberikan banyak keuntungan bagi proses kehidupan manusia, karena untuk mempermudah cara berkomunikasi sehingga hidup terasa lebih simple dan mudah. Facebook misalnya merupakan alat berkomunikasi via dunia maya yang sekarang ini lagi ngetrend di kalangan anak muda bahkan di seluruh lapisan masyarakat dunia.
Melalui facebook seseorang bisa saling berkenalan, berteman, bermitra bisnis, bercerita, berbagai pengalaman, mengenal wajah/foto, curhat, dan lain sebagainya dengan orang-orang yang berdada jauh dari tempat tinggalnya. Itu semua merupakan sebagian dari kelebihan dan kenuntungan yang diperoleh manusia dalam menggunakan alat berkomunikasi via dunia maya facebook. Bahkan saking ngetrend dan lagi topnya ketika seseorang anak muda tidak memiliki facebook maka dia dianggap orang yang ketinggalan dan Gaptek.
Di sisi lain produk-produk cara berkomunikasi via dunia maya tersebut seolah-olah menyeret kita pada rasa ketergantungan terhadap tehknologi dan cara bersosial serta melemahkan manusia untuk berinteraksi lansung tatap muka secara baik dan aktif dengan manusia yang lainya. Betapa tidak dengan melakukan berkomomunikasi secara aktif via dunia maya maka seseorang tidak perlu lagi untuk bertemu langsung dengan manusia lainya cukup dengan mengklik beberapa kali maka sudah tersambung dengan seseorang. Padahal di dalam berinteraksi antara manusia yang satu dengan manusia yang lainya tidak cukup dengan hanya menggunakan berkomunikasi ala via dunia maya. Cara berinteraksi yang baik salah satunya dengan bertatap muka langsung antara yang satu dengan yang lainnya atau antara kelompok yang satu dengan yang lainnya.
Kondisi seperti ini juga bisa membuat cara bermoral, bertingkah laku, bergaul seseorang akan mengalami kekakuan dan pada akhirnnya akan timbul rasa egois dan individualisme yang kebablasan. Kalau kita menyadari dan bisa memaknai hidup secara mendalam maka kita akan menyadari bahwa kita perlu berinteraksi dan berkomunikasi secara aktif dan langsung dalam hidup ini. Pertanyaanya adalah apakah kehadiran produk-produk cara berkomunikasi via dunia maya tersebut akan memberikan makna hidup peradaban manusia atau bahkan membuat manusia menjadi seperti robot yang dikendalikan oleh tehknologi ....??? penulis kira tergantung kepada kita bagaimana seharusnya kita bisa mengimbangi antra kedua-duanya agar tetap berjalan seiring dan menguntungkan bagi kehidupan peradaban manusia.
Langganan:
Postingan (Atom)
.jpg)